Kegagalan komponen mesin yang terbuat dari perunggu—baik itu bantalan yang aus sebelum waktunya atau roda gigi yang retak akibat beban kejut—seringkali menjadi masalah yang mahal dan mengganggu operasional industri. Bagi para insinyur material, teknisi manufaktur, dan manajer produksi, tantangan utamanya terletak pada sebuah dilema metalurgi yang kompleks: bagaimana cara menyeimbangkan antara kekerasan untuk ketahanan aus dan durabilitas untuk menahan kerusakan. Informasi yang ada seringkali terfragmentasi, menyajikan teori tanpa aplikasi praktis atau sebaliknya.
Artikel ini adalah panduan teknis komprehensif yang menjembatani kesenjangan tersebut. Kami akan membedah hubungan sebab-akibat antara komposisi paduan, struktur mikro, dan performa nyata material perunggu di lapangan. Dari fondasi sifat mekanik hingga strategi rekayasa material yang dapat ditindaklanjuti, panduan ini akan membekali Anda dengan pengetahuan untuk memilih, menguji, dan mengoptimalkan perunggu demi mencapai durabilitas maksimal dalam aplikasi industri Anda.
- Memahami Fondasi: Sifat Mekanik Utama pada Perunggu
- Hubungan Kritis: Bagaimana Kekerasan Mempengaruhi Durabilitas Perunggu
- Ilmu di Balik Performa: Komposisi Paduan & Struktur Mikro
- Cara Menguji Kekerasan dan Durabilitas Perunggu (Standar Industri)
- Mengatasi Masalah Umum: Mengapa Perunggu Mudah Retak atau Getas?
- Strategi Meningkatkan Kekerasan dan Durabilitas Perunggu
- Kesimpulan: Rekayasa Performa Melalui Pengetahuan
- Referensi
Memahami Fondasi: Sifat Mekanik Utama pada Perunggu
Sebelum menyelami hubungan kompleks antara kekerasan dan durabilitas, penting untuk membangun pemahaman yang kokoh tentang sifat-sifat mekanik fundamental yang mendefinisikan performa perunggu. Konsep-konsep ini, yang sering didefinisikan oleh badan standar seperti ASM International (The Materials Information Society), adalah bahasa universal dalam ilmu material.
Apa Itu Kekerasan dan Mengapa Penting?
Dalam konteks metalurgi, kekerasan (hardness) adalah kemampuan suatu material untuk menahan deformasi plastis lokal, seperti goresan atau lekukan pada permukaannya. Secara praktis, kekerasan berkorelasi langsung dengan ketahanan aus (wear resistance). Semakin keras permukaan suatu komponen, semakin baik kemampuannya menahan abrasi akibat gesekan dengan komponen lain. Inilah sebabnya mengapa kekerasan menjadi parameter kritis untuk aplikasi seperti bantalan (bearings), bushing, dan roda gigi. Kekerasan adalah salah satu properti yang paling sering diuji untuk kontrol kualitas dalam produksi komponen perunggu, memastikan setiap batch memenuhi spesifikasi performa yang dibutuhkan.
Apa Itu Durabilitas pada Material Logam?
Durabilitas (durability) adalah konsep yang lebih luas, mengacu pada kemampuan material untuk bertahan dalam jangka waktu lama di bawah kondisi servis tanpa mengalami degradasi atau kegagalan. Ini bukan sifat tunggal, melainkan gabungan dari beberapa properti mekanik, termasuk:
- Kekuatan (Strength): Kemampuan menahan beban tanpa patah.
- Ketangguhan (Toughness): Kemampuan menyerap energi dan menahan retak akibat beban kejut atau impak.
- Ketahanan Lelah (Fatigue Resistance): Kemampuan menahan kegagalan di bawah beban siklik atau berulang.
- Ketahanan Korosi (Corrosion Resistance): Kemampuan menahan degradasi kimia akibat lingkungan.
Contoh nyata durabilitas perunggu yang luar biasa dapat dilihat pada artefak bersejarah atau komponen maritim seperti baling-baling kapal, yang mampu bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun di lingkungan yang sangat korosif.
Perbedaan Kunci: Keuletan (Ductility) vs. Kerapuhan (Brittleness)
Untuk memahami durabilitas, kita harus memahami perbedaan antara keuletan dan kerapuhan. Bayangkan sebuah permen karet dan sebatang kaca. Permen karet bersifat ulet (ductile); ia dapat ditarik dan meregang secara signifikan sebelum akhirnya putus. Sebaliknya, kaca bersifat getas atau rapuh (brittle); ia patah secara tiba-tiba dengan sedikit atau tanpa peregangan saat diberi beban.
- Material Ulet: Mampu mengalami deformasi plastis yang besar sebelum patah. Kegagalannya dapat diprediksi.
- Material Getas: Patah tanpa deformasi plastis yang signifikan. Kegagalannya terjadi secara tiba-tiba dan katastropik.
Perbedaan ini sangat krusial karena dalam banyak kasus, peningkatan kekerasan pada perunggu cenderung mengurangi keuletannya dan meningkatkan kerapuhannya. Perilaku ini dapat divisualisasikan menggunakan kurva tegangan-regangan (stress-strain curve), di mana material ulet menunjukkan area deformasi plastis yang panjang, sementara material getas menunjukkan kurva yang pendek dan curam hingga titik patah.
Hubungan Kritis: Bagaimana Kekerasan Mempengaruhi Durabilitas Perunggu
Inti dari rekayasa material perunggu adalah mengelola hubungan sebab-akibat antara kekerasan dan durabilitas. Peningkatan kekerasan secara umum akan meningkatkan satu aspek durabilitas—yaitu ketahanan aus—namun berpotensi mengorbankan aspek lainnya, terutama ketangguhan.
Trade-Off Utama: Apakah Perunggu yang Lebih Keras Selalu Lebih Durabel?
Jawabannya adalah: tidak selalu. Durabilitas optimal bergantung sepenuhnya pada aplikasi spesifik.
- Skenario Pro-Kekerasan: Dalam aplikasi yang didominasi oleh gesekan dan abrasi, seperti pada plain bearing yang berputar konstan, perunggu yang lebih keras jelas lebih durabel. Permukaannya yang keras akan menahan keausan lebih lama, memperpanjang masa pakai komponen.
- Skenario Kontra-Kekerasan: Dalam aplikasi yang mengalami beban kejut, vibrasi, atau impak, seperti komponen pada mesin tempa atau peralatan konstruksi, perunggu yang terlalu keras bisa menjadi getas. Material yang getas memiliki ketangguhan rendah, sehingga lebih rentan retak dan patah secara tiba-tiba saat terkena benturan. Dalam kasus ini, perunggu yang sedikit lebih lunak namun lebih ulet akan lebih durabel.
Hubungan terbalik antara kekerasan dan ketangguhan ini adalah trade-off fundamental yang harus dipertimbangkan oleh setiap insinyur saat memilih atau merancang komponen perunggu.
Studi Kasus Aplikasi: Bantalan (Bearing) vs. Patung Artistik
Untuk memperjelas konsep ini, mari kita bandingkan dua aplikasi yang sangat berbeda:
- Bantalan (Bearing): Komponen ini membutuhkan kekerasan maksimal. Tujuannya adalah untuk menyediakan permukaan yang sangat tahan aus untuk menahan gesekan konstan dari poros yang berputar. Sedikit kerapuhan dapat ditoleransi karena beban yang diterima cenderung stabil dan terdistribusi. Pemilihan material di sini sangat dipandu oleh data performa aus. Untuk informasi lebih lanjut, para profesional dapat merujuk pada Panduan Memilih Material Bantalan Perunggu yang seringkali mengacu pada standar industri yang ketat.
- Patung Artistik Luar Ruang: Komponen ini membutuhkan ketangguhan dan ketahanan korosi maksimal. Patung harus mampu menahan perubahan cuaca ekstrem, potensi vandalisme atau benturan yang tidak disengaja, dan paparan polutan selama bertahun-tahun tanpa retak. Kekerasan permukaan bukanlah prioritas utama. Di sini, durabilitas diartikan sebagai kemampuan untuk tetap utuh secara struktural dan estetis dalam jangka panjang.
Aplikasi industri lain seperti roda gigi menuntut keseimbangan keduanya, memerlukan permukaan yang keras untuk menahan aus pada gigi namun inti yang tangguh untuk menahan beban kejut saat mesin dinyalakan atau dihentikan. Standar industri seperti Standar ASTM B427 untuk Perunggu Roda Gigi secara spesifik mendefinisikan persyaratan mekanis untuk aplikasi yang menuntut durabilitas tinggi ini.
Ilmu di Balik Performa: Komposisi Paduan & Struktur Mikro
Sifat mekanik perunggu tidak muncul secara ajaib; mereka ditentukan oleh dua faktor fundamental pada level mikroskopis: komposisi kimia paduannya dan struktur mikro internalnya. Memahami kedua faktor ini adalah kunci untuk merekayasa perunggu dengan performa yang diinginkan.
Peran Komposisi Paduan: Pengaruh Timah, Aluminium, dan Seng
Perunggu pada dasarnya adalah paduan tembaga. Elemen yang dipadukan dengannya secara drastis mengubah sifat-sifatnya.
- Timah (Sn): Elemen pemadu tradisional pada perunggu. Penambahan timah meningkatkan kekerasan dan kekuatan tarik tembaga secara signifikan. Namun, kandungan timah yang terlalu tinggi (di atas 15-20%) dapat membentuk fasa intermetalik yang sangat keras namun getas, menyebabkan material mudah retak.
- Aluminium (Al): Penambahan aluminium menciptakan keluarga perunggu aluminium yang memiliki kekuatan dan kekerasan superior, serta ketahanan korosi yang luar biasa, terutama di lingkungan laut.
- Seng (Zn): Sering ditambahkan dalam jumlah kecil untuk meningkatkan kemampuan tuang (castability) dan kemampuan mesin (machinability).
Data dari Copper Development Association (CDA) secara jelas menunjukkan dampak ini. Sebagai contoh, Perunggu Timah standar seperti C90700 (sekitar 11% timah) memiliki kekerasan Brinell sekitar 95 BHN. Sebaliknya, Perunggu Aluminium C95400 (sekitar 11% aluminium) memiliki kekerasan yang jauh lebih tinggi, mencapai 170 BHN. Ini adalah bukti kuantitatif bagaimana pemilihan elemen paduan secara langsung mengontrol properti akhir. Untuk data yang lebih mendalam, para insinyur dapat merujuk pada Data Metalurgi Paduan Tembaga dari sumber industri terkemuka.
Bagaimana Struktur Mikro Mengontrol Kekerasan
Jika kita melihat perunggu di bawah mikroskop metalurgi, kita akan melihat struktur yang terdiri dari butiran-butiran kristal (grains) dan berbagai fasa. Ukuran, bentuk, dan distribusi elemen-elemen ini—yang secara kolektif disebut struktur mikro—adalah penentu utama dari sifat mekanik makro.
Secara umum, struktur mikro dengan butiran yang lebih halus menghasilkan material yang lebih keras dan lebih kuat. Batas antar butiran bertindak sebagai penghalang bagi pergerakan dislokasi (cacat kristal), sehingga dibutuhkan lebih banyak gaya untuk mendeformasi material.
Proses seperti perlakuan panas (heat treatment) secara langsung memodifikasi struktur mikro ini. Sebuah studi ilmiah oleh Ezeobi et al. tentang perunggu silikon menunjukkan hal ini dengan jelas. Sampel perunggu dalam kondisi as-cast (setelah dituang) memiliki struktur mikro dengan butiran kasar dan kekerasan 48.5 HRB. Setelah melalui proses heat treatment pada 700°C dan didinginkan dengan cepat, struktur mikronya berubah menjadi butiran-butiran halus yang terdispersi merata. Perubahan struktur mikro ini secara langsung meningkatkan kekerasan material hingga 57.8 HRB. Ini membuktikan hubungan sebab-akibat yang kuat antara struktur mikro dan kekerasan.
Cara Menguji Kekerasan dan Durabilitas Perunggu (Standar Industri)
Untuk memastikan produk perunggu memenuhi spesifikasi teknis, pengujian material yang terstandarisasi adalah langkah yang tidak bisa ditawar. Metode pengujian ini diatur oleh badan standar internasional seperti ASTM International dan diadopsi secara nasional oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN), menjamin hasil yang akurat, dapat diulang, dan dapat dibandingkan di seluruh industri.
Metode Uji Kekerasan: Brinell (HB), Rockwell (HRB), dan Vickers (HV)
Tiga metode uji kekerasan indentasi yang paling umum digunakan untuk logam adalah Brinell, Rockwell, dan Vickers. Semuanya bekerja dengan prinsip yang sama: menekan indentor dengan bentuk dan beban tertentu ke permukaan material, lalu mengukur ukuran atau kedalaman lekukan yang dihasilkan.
| Metode Uji | Indentor | Prinsip Pengukuran | Aplikasi Tipikal |
|---|---|---|---|
| Brinell (HB) | Bola baja atau tungsten carbide | Mengukur diameter lekukan | Material kasar, hasil pengecoran, sampel besar |
| Rockwell (HRB/HRC) | Bola baja (skala B) atau kerucut intan (skala C) | Mengukur kedalaman penetrasi sisa | Kontrol kualitas produksi massal, cepat, dan mudah |
| Vickers (HV) | Piramida intan | Mengukur diagonal lekukan | Sampel tipis, lapisan permukaan, material yang sangat keras |
Pemilihan metode tergantung pada jenis paduan perunggu, ketebalan sampel, dan tingkat akurasi yang dibutuhkan.
Metode Uji Durabilitas: Uji Tarik, Uji Impak, dan Uji Keausan
Karena durabilitas adalah sifat komposit, beberapa jenis pengujian diperlukan untuk mengukurnya secara komprehensif:
- Uji Tarik (Tensile Test): Ini adalah pengujian mekanis yang paling fundamental. Sampel uji berbentuk standar ditarik secara perlahan hingga patah. Dari pengujian ini, kita mendapatkan data krusial seperti kekuatan luluh (yield strength), kekuatan tarik maksimum (ultimate tensile strength), dan keuletan (diukur sebagai persentase elongasi atau perpanjangan).
- Uji Impak (Impact Test): Metode seperti Charpy atau Izod digunakan untuk mengukur ketangguhan material atau kemampuannya menahan beban kejut. Sebuah bandul berat diayunkan untuk mematahkan sampel uji yang diberi takik. Energi yang diserap oleh sampel untuk patah menunjukkan tingkat ketangguhannya.
- Uji Keausan (Wear Test): Pengujian ini mensimulasikan kondisi servis di mana terjadi gesekan. Berbagai konfigurasi (misalnya, pin-on-disk) digunakan untuk mengukur laju kehilangan material dari permukaan perunggu selama periode waktu tertentu, memberikan data kuantitatif tentang ketahanan abrasinya.
Mengatasi Masalah Umum: Mengapa Perunggu Mudah Retak atau Getas?
Memahami mengapa komponen perunggu gagal adalah langkah pertama untuk mencegahnya. Keretakan dan sifat getas biasanya bukan disebabkan oleh kelemahan inheren material, melainkan akibat dari kondisi metalurgi atau proses manufaktur yang tidak tepat.
Penyebab Utama: Komposisi, Pengerjaan Dingin, dan Tegangan Sisa
Tiga faktor utama yang dapat menyebabkan perunggu menjadi getas dan mudah retak adalah:
- Komposisi Paduan yang Salah: Seperti yang telah dibahas, kandungan timah yang berlebihan dapat membentuk fasa intermetalik (seperti fasa delta) yang sangat keras namun rapuh, yang bertindak sebagai titik awal retakan.
- Pengerjaan Dingin (Cold Working) Berlebihan: Proses seperti penempaan, pembengkokan, atau pengerolan pada suhu ruang akan meningkatkan kekerasan perunggu melalui mekanisme work hardening. Namun, jika dilakukan secara berlebihan tanpa diselingi proses pelunakan, material akan kehilangan keuletannya dan menjadi sangat rentan retak. Sangat penting bagi manufaktur untuk menerapkan siklus annealing (pemanasan untuk melunakkan) setelah tingkat pengerjaan dingin tertentu untuk mengembalikan keuletan material.
- Tegangan Sisa (Residual Stress): Proses pengecoran, pengelasan, atau pemesinan dapat meninggalkan tegangan internal di dalam material. Tegangan ini, jika tidak dihilangkan melalui perlakuan panas (stress relieving), dapat memicu retak, terutama di lingkungan korosif dalam mekanisme yang dikenal sebagai stress corrosion cracking.
Memahami ‘Penyakit Perunggu’ (Bronze Disease) dan Pencegahannya
Salah satu penyebab utama penurunan durabilitas perunggu dalam jangka panjang adalah bentuk korosi agresif yang dikenal sebagai ‘penyakit perunggu’. Ini bukan penyakit biologis, melainkan reaksi kimia yang merusak.
- Apa itu? Penyakit perunggu terjadi ketika klorida (dari garam atau polusi) bereaksi dengan tembaga dalam lingkungan yang lembab, membentuk asam klorida yang kemudian menyerang logam di bawahnya.
- Bagaimana mengidentifikasinya? Tanda-tandanya adalah munculnya bintik-bintik atau bercak berwarna hijau pucat yang kasar dan berbubuk di permukaan. Jika digali, akan terlihat bubuk di bawahnya.
- Pencegahan dan Perawatan: Praktik konservasi yang digunakan oleh institusi seperti museum menunjukkan bahwa kunci pencegahannya adalah mengontrol lingkungan. Simpan produk perunggu di tempat yang kering dan stabil. Untuk membersihkan, gunakan sikat lembut dan air suling. Hindari pembersih abrasif atau yang mengandung amonia. Jika penyakit perunggu sudah parah, intervensi oleh ahli konservasi mungkin diperlukan untuk menstabilkan korosi secara kimia.
Strategi Meningkatkan Kekerasan dan Durabilitas Perunggu
Dengan pemahaman tentang ilmu material di baliknya, kita dapat secara proaktif merekayasa perunggu untuk mencapai kombinasi sifat mekanik yang optimal. Dua strategi utama untuk ini adalah pemilihan paduan yang tepat dan penerapan proses perlakuan panas (heat treatment) yang terkontrol.
Panduan Pemilihan Paduan Perunggu yang Tepat
Memilih paduan yang benar dari awal adalah 80% dari solusi. Setiap keluarga perunggu menawarkan kombinasi properti yang unik, cocok untuk aplikasi yang berbeda.
| Jenis Paduan | Properti Kunci | Aplikasi Umum |
|---|---|---|
| Perunggu Timah (Tin Bronze) | Keseimbangan kekuatan, ketahanan aus, dan ketahanan korosi yang baik. | Bantalan, bushing, roda gigi, fitting pipa. |
| Perunggu Aluminium (Aluminum Bronze) | Kekuatan sangat tinggi, kekerasan superior, ketahanan korosi dan kavitasi luar biasa. | Baling-baling kapal, komponen pompa, katup untuk air laut, perkakas anti percikan. |
| Perunggu Fosfor (Phosphor Bronze) | Ketahanan lelah (fatigue) tinggi, elastisitas baik, konduktivitas listrik bagus. | Pegas, konektor listrik, diafragma, bellow. |
| Perunggu Silikon (Silicon Bronze) | Ketahanan korosi sangat baik, mampu dilas dengan baik, kekuatan tinggi. | Tangki, bejana tekan, perangkat keras arsitektur dan kelautan. |
Untuk aplikasi yang sangat menuntut seperti di industri kelautan, insinyur dapat merujuk pada sumber daya teknis mendalam seperti Panduan Teknis Perunggu Aluminium Nikel untuk spesifikasi yang lebih detail.
Teknik Peningkatan Kekerasan Melalui Heat Treatment
Perlakuan panas adalah proses memanaskan dan mendinginkan logam secara terkontrol untuk mengubah struktur mikronya, dan dengan demikian, mengubah sifat mekaniknya.
Langkah-langkah Proses Hardening (Quenching & Tempering)
Proses ini bertujuan untuk membuat perunggu sekeras mungkin, lalu mengurangi sedikit kerapuhannya untuk meningkatkan ketangguhan.
- Pemanasan (Austenisasi): Perunggu dipanaskan ke suhu tinggi (misalnya, 750 – 850°C, tergantung paduan) hingga struktur mikronya berubah menjadi fasa tunggal yang homogen.
- Pendinginan Cepat (Quenching): Material kemudian didinginkan dengan sangat cepat dengan mencelupkannya ke dalam media pendingin. Media yang berbeda (air, air garam, minyak) memiliki laju pendinginan yang berbeda dan akan menghasilkan tingkat kekerasan yang berbeda pula. Proses ini “mengunci” struktur mikro yang keras dan tidak stabil. Hasilnya adalah material yang sangat keras namun juga sangat getas.
- Pemanasan Kembali (Tempering): Komponen yang sudah dikeraskan kemudian dipanaskan kembali ke suhu yang lebih rendah (misalnya, 300 – 600°C) dan ditahan selama beberapa waktu. Proses ini memungkinkan sedikit perubahan pada struktur mikro, mengurangi tegangan internal, dan secara signifikan meningkatkan ketangguhan dan keuletan, meskipun biasanya dengan sedikit penurunan kekerasan. Data dari CDA menunjukkan bahwa perunggu aluminium nikel yang di-quench dapat memiliki kekerasan 235 HB dengan elongasi 8%. Setelah di-temper pada 600°C, kekerasannya sedikit meningkat menjadi 244 HB sementara elongasi (keuletan) melonjak menjadi 18%, sebuah contoh sempurna dari optimalisasi sifat mekanik.
Langkah-langkah Proses Annealing (Pelunakan)
Proses ini bertujuan untuk melunakkan perunggu, menghilangkan tegangan sisa, dan memaksimalkan keuletannya.
- Pemanasan: Perunggu dipanaskan ke suhu tertentu (misalnya, 550 – 700°C).
- Penahanan (Soaking): Material ditahan pada suhu tersebut untuk memastikan panas merata di seluruh bagian.
- Pendinginan Lambat: Komponen dibiarkan mendingin secara perlahan, seringkali dengan mematikannya di dalam tungku. Pendinginan lambat ini memungkinkan terbentuknya struktur mikro yang stabil, bebas tegangan, dan memiliki butiran yang lebih besar, menghasilkan material yang lunak dan ulet. Proses ini sangat penting sebagai langkah antara selama pengerjaan dingin untuk mencegah keretakan.
Kesimpulan: Rekayasa Performa Melalui Pengetahuan
Hubungan antara kekerasan dan durabilitas pada perunggu bukanlah hubungan yang sederhana, melainkan sebuah trade-off yang harus dikelola dengan cermat. Kekerasan yang tinggi memang memberikan ketahanan aus yang superior, namun seringkali mengorbankan ketangguhan yang vital untuk menahan beban kejut. Kunci untuk mencapai performa maksimal terletak pada pemahaman mendalam tentang ilmu di baliknya.
Dengan memahami bagaimana komposisi paduan dan struktur mikro secara fundamental menentukan sifat mekanik, serta menguasai kekuatan rekayasa melalui pemilihan paduan yang tepat dan penerapan proses heat treatment yang terkontrol, para insinyur dan teknisi dapat beralih dari sekadar pengguna material menjadi perancang performa. Anda kini dibekali pengetahuan untuk membuat keputusan yang lebih cerdas dan terinformasi, memastikan setiap komponen perunggu tidak hanya keras, tetapi juga benar-benar durabel untuk aplikasi yang dituju.
Sebagai supplier dan distributor alat ukur dan uji terkemuka, CV. Java Multi Mandiri memahami pentingnya verifikasi dan kontrol kualitas material dalam aplikasi industri. Kami berspesialisasi dalam melayani klien bisnis dan industri, menyediakan instrumen pengujian kekerasan dan analisis material yang andal untuk membantu perusahaan Anda mengoptimalkan operasional dan memastikan setiap komponen memenuhi standar performa tertinggi. Untuk mendiskusikan kebutuhan perusahaan Anda terkait peralatan pengujian, silakan hubungi kami untuk konsultasi solusi bisnis.
Rekomendasi Flaw Detector
-

Alat Ukur Lapisan NOVOTEST SPARK-1
Rp49.875.000,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Ultrasonic Flaw Detector NOVOTEST UD2303
Rp78.187.500,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Ultrasonic Flaw Detector NOVOTEST UD-1
Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating
Referensi
- Ezeobi, U. E., Nwambu, C. N., Nnuka, E. E., & Bosan, B. M. (N.D.). Effect of solutionizing heat treatment on the structure and mechanical properties of silicon bronze (Cu-10wt%Si-2wt%Ni). The Advanced Engineering Research. Retrieved from https://www.engineegroup.us/articles/ABSE-10-133.pdf
- Nielsen, Jr., W. D. (N.D.). Standards & Properties: Metallurgy of Copper-Base Alloys. Copper Development Association (CDA). Retrieved from https://copper.org/resources/properties/703_5/
- Richardson, I. (N.D.). Guide to Nickel Aluminium Bronze for Engineers (Publication No 222). Copper Development Association (CDA). Retrieved from https://copper.org/applications/marine/nickel_al_bronze/pub-222-nickel-al-bronze-guide-engineers.pdf




