Panduan Lapangan: Inspeksi Ultrasonik untuk Kualitas Material Pracetak Jalan Raya

Jalan raya yang retak atau amblas bukan hanya masalah ketidaknyamanan; ini adalah risiko keselamatan publik dan kegagalan investasi infrastruktur yang masif. Seringkali, akar masalahnya tersembunyi jauh di dalam material konstruksi itu sendiri—cacat tak kasat mata pada panel beton pracetak yang dipasang. Para insinyur sipil, manajer proyek, dan inspektur QC di lapangan sering kali menghadapi tantangan besar: kurangnya satu sumber daya praktis yang terpadu untuk memastikan integritas setiap komponen pracetak yang tiba di lokasi. Mereka dihadapkan pada standar yang tersebar, metode pengujian yang kompleks, dan tekanan untuk membuat keputusan cepat yang krusial.

Artikel ini adalah jawaban atas tantangan tersebut. Anggaplah ini sebagai panduan lapangan utama Anda, yang dirancang untuk memberdayakan Anda dengan pengetahuan dan alat yang dapat ditindaklanjuti. Kami akan membedah segalanya mulai dari standar kualitas SNI yang wajib dipatuhi, melakukan inspeksi ultrasonik langkah demi langkah, hingga cara mendiagnosis dan mengatasi cacat material. Tujuannya sederhana: memberi Anda keyakinan untuk memastikan setiap elemen pracetak yang Anda gunakan aman, tahan lama, dan sesuai dengan spesifikasi tertinggi.

  1. Mengapa Kualitas Material Pracetak adalah Fondasi Jalan Raya yang Andal?
  2. Standar Emas: Acuan Kualitas Beton Pracetak untuk Jalan Raya (SNI & Internasional)
  3. Inspeksi Ultrasonik: Mengungkap Kondisi Internal Beton Tanpa Merusak
    1. Prinsip Kerja Ultrasonic Pulse Velocity Test (UPVT)
    2. Cacat yang Dapat Dideteksi: Dari Retak Hingga ‘Honeycomb’
  4. Panduan Praktis: Melakukan Inspeksi Ultrasonik di Lapangan (Step-by-Step)
  5. Mendiagnosis Masalah: Mengidentifikasi & Menangani Cacat Umum Beton Pracetak
  6. Optimalisasi dari Hulu ke Hilir: Mencegah Cacat Sejak Awal
  7. FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Kualitas dan Inspeksi Beton Pracetak
    1. Apa perbedaan antara retak struktural dan non-struktural?
    2. Apakah inspeksi ultrasonik 100% akurat?
    3. Kapan unit beton pracetak boleh dipindahkan setelah dicor?
  8. Kesimpulan
  9. References & Authoritative Sources

Mengapa Kualitas Material Pracetak adalah Fondasi Jalan Raya yang Andal?

Material pracetak, khususnya beton pracetak, adalah komponen struktur yang dicetak di luar lokasi proyek (pabrik) dalam kondisi lingkungan yang terkontrol, kemudian diangkut ke lokasi untuk dipasang. Untuk konstruksi jalan raya, ini bisa berupa panel jalan, median barrier, atau komponen drainase. Keunggulannya dibandingkan metode cor di tempat (cast-in-place) sangat signifikan, terutama dalam hal kendali mutu dan efisiensi waktu.

Dalam lingkungan pabrik yang terkontrol, faktor-faktor seperti rasio air-semen, proses curing (perawatan), dan kekuatan material dapat diawasi dengan ketat, menghasilkan kualitas beton pracetak yang lebih konsisten dan unggul. Proses produksi paralel ini juga secara dramatis mempercepat jadwal konstruksi, karena fondasi dapat disiapkan sementara panel jalan sedang diproduksi.

Namun, keunggulan ini hanya terwujud jika kualitasnya terjamin. Penggunaan material pracetak berkualitas rendah membawa konsekuensi yang fatal. Cacat internal seperti rongga (honeycomb), keretakan mikro, atau ketidakseragaman material dapat menjadi titik lemah yang memicu risiko kegagalan struktur jalan. Menurut analisis mengenai kegagalan struktur, kualitas material yang buruk adalah salah satu penyebab utama yang dapat mempersingkat umur layanan infrastruktur dan membahayakan keselamatan pengguna jalan[1]. Oleh karena itu, memastikan kualitas material pracetak bukan sekadar kepatuhan, melainkan fondasi utama untuk membangun jalan raya yang andal dan tahan lama.

Standar Emas: Acuan Kualitas Beton Pracetak untuk Jalan Raya (SNI & Internasional)

Untuk memastikan setiap komponen pracetak memenuhi ekspektasi, para profesional konstruksi harus berpegang pada standar teknis yang jelas. Di Indonesia, acuan utama untuk proyek infrastruktur jalan disediakan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga.

Dokumen yang paling relevan adalah Spesifikasi Khusus Interim Seksi SKH-1.7.4.3 Beton Pracetak[2]. Dokumen ini menetapkan persyaratan krusial yang harus dipenuhi. Dua poin paling penting yang perlu digarisbawahi adalah:

  1. Mutu Beton: Untuk kualitas terbaik dan durabilitas maksimal pada jalan raya, mutu beton yang disarankan adalah K-350. Ini menunjukkan bahwa beton harus memiliki kuat tekan karakteristik minimal 350 kg/cm² setelah 28 hari.
  2. Kekuatan Saat Penanganan: Unit beton pracetak tidak boleh dipindahkan, diangkut, atau dibebani sebelum mencapai kekuatan tekan minimal 85% dari kekuatan desainnya selama 28 hari. Aturan ini sangat penting untuk mencegah keretakan akibat penanganan yang terlalu dini.

Untuk memudahkan para praktisi di lapangan, berikut adalah ringkasan spesifikasi kunci yang diambil dari standar tersebut:

Parameter KunciPersyaratan Standar (Berdasarkan SKH-1.7.4.3)
Mutu BetonMinimum K-350
Kekuatan Minimum85% dari kekuatan desain 28 hari sebelum dipindahkan
Toleransi Dimensi± 6 mm untuk panjang/lebar; ± 3 mm untuk ketebalan
Selimut Beton (Reinforcement Cover)Sesuai dengan gambar desain, melindungi tulangan dari korosi
Sistem SambunganMenggunakan sistem seperti plat joint embeded untuk transfer beban

Sistem sambungan seperti plat joint embeded dirancang untuk memastikan beban dari satu panel dapat ditransfer secara efisien ke panel berikutnya, mencegah pergeseran vertikal yang dapat menyebabkan jalan menjadi tidak rata. Sistem ini biasanya melibatkan pelat baja yang tertanam di sisi panel pracetak yang kemudian dihubungkan di lokasi proyek.

Inspeksi Ultrasonik: Mengungkap Kondisi Internal Beton Tanpa Merusak

Bagaimana Anda bisa yakin bahwa beton pracetak yang tampak sempurna di permukaan tidak menyembunyikan cacat fatal di dalamnya? Di sinilah Uji Non-Destruktif atau Non-Destructive Testing (NDT) berperan. NDT adalah serangkaian metode analisis untuk mengevaluasi properti material tanpa menyebabkan kerusakan.

Salah satu metode NDT yang paling kuat untuk beton adalah inspeksi ultrasonik. Bayangkan teknologi ini seperti USG medis untuk struktur bangunan. Gelombang suara berfrekuensi tinggi dikirim melalui beton, dan dengan menganalisis bagaimana gelombang tersebut berjalan—kecepatan dan kekuatannya—kita dapat “melihat” kondisi internalnya dan mendeteksi adanya anomali.

Meskipun ada beberapa metode NDT untuk beton, inspeksi ultrasonik unggul dalam menilai keseragaman dan integritas struktural. Berikut perbandingan singkatnya dengan metode umum lainnya:

Metode NDTApa yang DiukurKelebihanKeterbatasan
Ultrasonic Pulse Velocity (UPV)Kecepatan gelombang suara melalui beton untuk menilai keseragaman, mendeteksi rongga/retak.Sangat baik untuk mendeteksi cacat internal dan menilai kualitas secara keseluruhan.Hasil dapat dipengaruhi oleh tulangan baja dan kadar air.
Rebound Hammer (Schmidt Hammer)Kekerasan permukaan beton, yang berkorelasi dengan kuat tekan.Cepat, mudah digunakan, dan portabel untuk estimasi kekuatan di tempat.Hanya mengukur permukaan (±30 mm), tidak mendeteksi cacat internal.
Cover Meter (Rebar Locator)Lokasi dan kedalaman tulangan baja serta mengukur ketebalan selimut beton.Penting untuk verifikasi kepatuhan desain dan mencegah korosi tulangan.Tidak memberikan informasi tentang kualitas beton itu sendiri.

Untuk evaluasi komprehensif, metode-metode ini sering digunakan bersamaan. Namun, untuk “mengintip” ke dalam beton, inspeksi ultrasonik adalah alat yang tak tergantikan, yang didukung oleh standar internasional seperti ASTM C597, Standard Test Method for Pulse Velocity Through Concrete[3].

Prinsip Kerja Ultrasonic Pulse Velocity Test (UPVT)

Metode inspeksi ultrasonik yang paling umum digunakan untuk beton adalah Ultrasonic Pulse Velocity Test (UPVT). Prinsipnya sederhana: sebuah alat yang disebut transducer pemancar ditempatkan di satu sisi beton dan mengirimkan pulsa gelombang ultrasonik. Di sisi lain, transducer penerima mendeteksi kedatangan pulsa tersebut. Alat uji mengukur waktu tempuh (T) pulsa dari pemancar ke penerima. Dengan mengetahui jarak (L) antara kedua transducer, kecepatan pulsa (V) dapat dihitung dengan rumus: V = L / T.

Kecepatan ini adalah indikator langsung dari kualitas beton. Beton yang padat dan bebas cacat akan mentransmisikan gelombang suara dengan sangat cepat. Sebaliknya, jika ada retakan, rongga, atau material yang tidak seragam, gelombang akan melambat atau terhalang, menghasilkan pembacaan kecepatan yang lebih rendah. Menurut para spesialis NDT, UPVT sangat efektif untuk menilai keseragaman beton di seluruh elemen dan merupakan metode yang andal untuk menemukan cacat internal seperti rongga atau delaminasi[4].

Terdapat tiga cara utama untuk menempatkan transducer pada elemen beton:

  1. Transmisi Langsung (Direct): Transducer ditempatkan saling berhadapan di sisi yang berlawanan. Ini adalah metode yang paling akurat.
  2. Transmisi Semi-Langsung (Semi-Direct): Transducer ditempatkan pada permukaan yang bersebelahan (membentuk sudut).
  3. Transmisi Tidak Langsung (Indirect): Kedua transducer ditempatkan pada permukaan yang sama. Metode ini digunakan ketika akses ke sisi berlawanan tidak memungkinkan.

Cacat yang Dapat Dideteksi: Dari Retak Hingga ‘Honeycomb’

Inspeksi ultrasonik sangat sensitif terhadap perubahan kepadatan di dalam beton. Hal ini membuatnya mampu mendeteksi berbagai cacat material konstruksi yang berbahaya, antara lain:

  • Rongga (Voids) dan Honeycombing: Ini adalah area di mana agregat tidak terdistribusi dengan baik, meninggalkan kantong-kantong udara. Gelombang ultrasonik akan melambat secara signifikan saat melewati rongga ini.
  • Keretakan Internal: Retakan, bahkan yang tidak terlihat di permukaan, menciptakan batas yang mengganggu jalur gelombang suara, menyebabkan pembacaan kecepatan yang jauh lebih rendah atau sinyal yang hilang sama sekali.
  • Ketidakseragaman (Non-uniformity): Jika kualitas campuran beton tidak konsisten di seluruh elemen, UPVT akan menunjukkan variasi kecepatan pulsa di berbagai titik pengujian.
  • Kerusakan Akibat Api atau Frost: Beton yang telah mengalami kerusakan akibat suhu ekstrem akan memiliki integritas struktural yang lebih rendah, yang tercermin dalam kecepatan pulsa yang lebih lambat.

Penelitian akademis telah menunjukkan korelasi kuat antara keberadaan cacat-cacat ini dan penurunan terukur dalam kecepatan pulsa ultrasonik, menjadikannya alat diagnostik yang andal[1].

Panduan Praktis: Melakukan Inspeksi Ultrasonik di Lapangan (Step-by-Step)

Menerapkan UPVT di lapangan membutuhkan pemahaman tentang peralatan dan prosedur yang benar. Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk menjadikan inspeksi ini sebagai bagian dari rutinitas QC Anda.

Memilih Alat yang Tepat: Portable Ultrasonic Flaw Detector
Saat memilih alat uji ultrasonik beton, atau Portable Ultrasonic Flaw Detector, perhatikan fitur-fitur berikut:

  • Akurasi dan Rentang Frekuensi: Pastikan alat memiliki akurasi tinggi dan rentang frekuensi yang sesuai untuk beton (biasanya 24 hingga 150 kHz).
  • Kapasitas Penyimpanan Data: Kemampuan untuk menyimpan, meninjau, dan mentransfer data pembacaan sangat penting untuk pelaporan.
  • Daya Tahan Baterai: Pilih perangkat dengan baterai yang tahan lama untuk penggunaan di lapangan sepanjang hari.
  • Kemudahan Penggunaan: Antarmuka yang intuitif dan layar yang jelas akan mempercepat proses pengujian.

Terdapat dua teknologi utama: UPV (Pulse Velocity) yang mengukur waktu tempuh melalui objek, dan UPE (Pulse Echo) yang bekerja seperti radar dengan satu transducer untuk mendeteksi cacat berdasarkan gema. Untuk penilaian kualitas umum beton pracetak, UPVT adalah standar industrinya.

Prosedur Inspeksi Langkah-demi-Langkah:

  1. Persiapan Permukaan: Bersihkan permukaan beton di titik pengujian dari debu, kotoran, atau cat. Permukaan harus halus; jika sangat kasar, ratakan dengan gerinda.
  2. Kalibrasi Alat: Sebelum memulai, kalibrasi perangkat menggunakan batang referensi dengan waktu tempuh yang diketahui untuk memastikan akurasi.
  3. Tandai Grid Pengujian: Tandai lokasi titik-titik pengujian pada permukaan beton dalam bentuk grid atau pola yang sistematis untuk memastikan cakupan yang representatif. Ukur dan catat jarak (L) antar titik.
  4. Aplikasikan Couplant: Oleskan gel couplant (seperti gemuk atau gel khusus) pada permukaan transducer dan titik kontak di beton. Ini penting untuk menghilangkan celah udara dan memastikan transmisi gelombang yang efisien.
  5. Lakukan Pembacaan: Tekan kedua transducer (pemancar dan penerima) dengan kuat pada titik yang telah ditandai. Catat waktu tempuh (T) yang ditampilkan oleh alat. Ulangi untuk semua titik di grid pengujian.
  6. Hitung dan Interpretasikan Kecepatan: Hitung kecepatan pulsa (V = L / T) untuk setiap titik. Bandingkan hasilnya dengan kriteria kualitas beton.

Menginterpretasikan Hasil: Tabel Kualitas Beton
Kecepatan pulsa (dalam meter per detik) secara langsung berkorelasi dengan kualitas beton. Tabel berikut adalah panduan umum yang diterima secara luas di industri:

Kecepatan Pulsa (m/s)Kualitas BetonKondisi
> 4500Sangat Baik (Excellent)Padat, seragam, dan integritas tinggi
3500 – 4500Baik (Good)Struktur padat dan dapat diandalkan
3000 – 3500Meragukan (Doubtful)Mungkin ada masalah, perlu investigasi lebih lanjut
2000 – 3000Buruk (Poor)Beton berkualitas rendah dengan kemungkinan cacat
< 2000Sangat Buruk (Very Poor)Beton sangat berpori atau memiliki cacat signifikan

Setiap pembacaan yang jatuh dalam kategori “Meragukan” atau lebih rendah harus menjadi tanda bahaya untuk melakukan investigasi lebih lanjut, mungkin dengan metode NDT lain atau bahkan uji destruktif (core drill) pada sampel.

Mendiagnosis Masalah: Mengidentifikasi & Menangani Cacat Umum Beton Pracetak

Inspeksi ultrasonik mengungkap masalah internal, sementara inspeksi visual dapat mengidentifikasi cacat permukaan. Memahami keduanya sangat penting.

Panduan Visual Cacat Beton Pracetak

Jenis CacatDeskripsi VisualKemungkinan PenyebabTingkat Keparahan
Retak Rambut (Hairline Cracks)Retakan sangat halus (< 0.1 mm), seringkali dalam pola jaring laba-laba.Pengeringan permukaan yang terlalu cepat (plastic shrinkage).Rendah (biasanya non-struktural).
HoneycombingPermukaan kasar dengan agregat terbuka dan banyak rongga.Pemadatan yang tidak memadai, campuran beton yang terlalu kaku.Sedang hingga Tinggi (mengurangi kekuatan dan durabilitas).
Retak StrukturalRetakan lebih lebar (> 1 mm), seringkali berjalan lurus atau diagonal menembus elemen.Beban berlebih, desain yang salah, penurunan fondasi.Sangat Tinggi (mengancam integritas struktur).
Spalling (Lepasnya Permukaan)Potongan beton terlepas dari permukaan, seringkali mengekspos tulangan.Korosi tulangan, benturan, atau siklus beku-cair.Tinggi (memerlukan perbaikan segera).

Alur Keputusan: Perbaiki atau Tolak?
Saat menemukan cacat, gunakan alur pikir ini:

  1. Identifikasi: Apa jenis cacatnya? (Gunakan panduan di atas).
  2. Ukur: Seberapa lebar, panjang, dan dalam cacat tersebut?
  3. Evaluasi Lokasi: Apakah cacat berada di area kritis penahan beban?
  4. Korelasi dengan NDT: Apakah hasil UPVT di area tersebut menunjukkan kecepatan rendah?
  5. Keputusan:
    • Retak rambut non-struktural: Dapat diterima atau diperbaiki dengan grouting semen.
    • Honeycombing kecil & dangkal: Dapat diperbaiki dengan mortar perbaikan.
    • Honeycombing luas/dalam atau retak struktural: Tolak elemen pracetak tersebut. Risiko kegagalan terlalu tinggi.

Untuk perbaikan retakan non-struktural kecil, campuran sederhana yang terdiri dari semen dan air (dan pasir halus jika perlu) dapat digunakan untuk mengisi celah dan melindungi dari penetrasi air[5]. Namun, perbaikan struktural harus selalu dirancang dan diawasi oleh insinyur ahli.

Optimalisasi dari Hulu ke Hilir: Mencegah Cacat Sejak Awal

Deteksi cacat itu penting, tetapi pencegahan adalah strategi terbaik. Kualitas beton pracetak yang superior dimulai jauh sebelum inspeksi. Optimalisasi mutu beton bergantung pada tiga pilar utama:

  1. Material Berkualitas: Gunakan semen, agregat (pasir dan kerikil), dan air yang bersih dan memenuhi standar. Agregat yang terkontaminasi lumpur atau bahan organik akan melemahkan beton.
  2. Desain Campuran yang Tepat (Mix Design): Faktor terpenting di sini adalah rasio air-semen. Semakin rendah rasio air-semen (dalam batas kerja yang wajar), semakin tinggi kekuatan dan durabilitas beton. Terlalu banyak air akan menghasilkan beton yang berpori dan lemah. Bahan tambahan (admixture) juga dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja, seperti plasticizer untuk meningkatkan kemudahan kerja tanpa menambah air, atau accelerator untuk mempercepat pengerasan. Aditif seperti Betonmix dapat ditambahkan dengan rasio sekitar 1% dari berat semen untuk meningkatkan kualitas[6].
  3. Proses yang Terkontrol:
    • Pencampuran: Pastikan semua bahan tercampur secara homogen.
    • Pemadatan: Gunakan vibrator untuk menghilangkan kantong udara dan memastikan beton mengisi seluruh cetakan.
    • Perawatan (Curing): Ini adalah proses yang paling sering diabaikan namun sangat krusial. Beton harus dijaga tetap lembab selama periode awal pengerasannya agar reaksi hidrasi semen berjalan sempurna. Ini bisa dilakukan dengan penyiraman air terus-menerus (bisa hingga 23 hari), menutupi dengan karung goni basah, atau menggunakan senyawa curing kimia.

Dengan mengontrol ketiga pilar ini di lingkungan pabrik, risiko cacat dapat diminimalkan secara drastis, memastikan material pracetak yang tiba di lokasi proyek memiliki kualitas tertinggi sejak awal.

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Kualitas dan Inspeksi Beton Pracetak

Apa perbedaan antara retak struktural dan non-struktural?

Retak struktural adalah cacat yang membahayakan kapasitas penahan beban suatu elemen. Biasanya lebih lebar, lebih dalam, dan dapat menunjukkan adanya masalah desain atau beban berlebih. Retak non-struktural (seperti retak rambut) bersifat superfisial dan biasanya disebabkan oleh faktor-faktor seperti penyusutan saat pengeringan. Meskipun tidak mengancam stabilitas, retak ini tetap perlu dievaluasi karena bisa menjadi jalur masuk air yang menyebabkan korosi di kemudian hari. Selalu rujuk pada panduan visual di bagian “Mendiagnosis Masalah” untuk identifikasi awal.

Apakah inspeksi ultrasonik 100% akurat?

Inspeksi ultrasonik adalah metode yang sangat efektif dan andal, tetapi tidak 100% sempurna. Hasilnya dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti keberadaan dan kepadatan tulangan baja (gelombang bergerak lebih cepat melalui baja), kadar air dalam beton, dan suhu. Menurut para teknisi NDT berpengalaman, kunci dari akurasi adalah interpretasi data dalam konteks. UPVT paling baik digunakan sebagai alat komparatif untuk menilai keseragaman dan sebagai penanda area yang berpotensi bermasalah, yang kemudian harus diverifikasi lebih lanjut.

Kapan unit beton pracetak boleh dipindahkan setelah dicor?

Sesuai standar dari Ditjen Bina Marga, unit beton pracetak tidak boleh dipindahkan, diangkat, atau diangkut sampai beton telah mencapai minimal 85% dari kekuatan tekan desainnya selama 28 hari. Mematuhi aturan ini sangat penting untuk mencegah kerusakan dan keretakan akibat tekanan internal yang terjadi selama penanganan sebelum beton cukup kuat.

Kesimpulan

Mencapai integritas material pracetak untuk jalan raya bukanlah soal kebetulan, melainkan hasil dari proses yang sistematis: mulai dari kepatuhan yang ketat terhadap standar kualitas, penerapan teknik inspeksi canggih seperti pengujian ultrasonik, hingga kontrol kualitas proaktif di setiap tahap produksi. Dengan memahami prinsip-prinsip ini, Anda tidak lagi hanya bereaksi terhadap masalah, tetapi secara aktif mencegahnya.

Anda kini memiliki kerangka kerja praktis—sebuah panduan lapangan—untuk mengevaluasi, mendiagnosis, dan memastikan bahwa setiap panel beton pracetak yang menjadi bagian dari proyek Anda adalah fondasi yang kokoh untuk infrastruktur yang aman, andal, dan tahan lama.

Sebagai supplier dan distributor alat ukur dan uji terkemuka, CV. Java Multi Mandiri memahami pentingnya akurasi dan keandalan dalam setiap proyek konstruksi. Kami menyediakan berbagai instrumen pengujian non-destruktif, termasuk alat uji ultrasonik beton, untuk membantu Anda memastikan kualitas material sesuai standar tertinggi. Jika Anda membutuhkan peralatan untuk mendukung quality control proyek Anda, jangan ragu untuk menghubungi kami untuk konsultasi mengenai kebutuhan instrumen Anda.

Rekomendasi Ultrasonic Testing


Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bertujuan untuk edukasi dan tidak menggantikan konsultasi dengan insinyur sipil atau ahli struktur bersertifikat. Selalu patuhi standar keselamatan dan peraturan konstruksi yang berlaku di lokasi proyek Anda.


References & Authoritative Sources

  1. Petra Christian University. (N.D.). Jurnal Teknik Sipil. Retrieved from publication.petra.ac.id.
  2. Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (N.D.). Spesifikasi Khusus Interim Seksi SKH-1.7.4.3 Beton Pracetak. Retrieved from https://binamarga.pu.go.id/uploads/files/507/spesifikasi-khusus-interim-seksi-skh-1743-beton-pracetak.pdf.
  3. ASTM International. (N.D.). ASTM C597 / C597M-16, Standard Test Method for Pulse Velocity Through Concrete. Retrieved from ASTM International.
  4. Hesa.co.id. (N.D.). Nondestructive Testing Services. Retrieved from hesa.co.id.
  5. Artaprecast.com. (N.D.). Memperbaiki Beton Retak. Retrieved from artaprecast.com.
  6. Additon.co.id. (N.D.). Bahan Tambah untuk Beton. Retrieved from additon.co.id.

Konsultasi Produk NOVOTEST Indonesia