Bagi teknisi maintenance dan quality control di sektor industri berat Indonesia—migas, pembangkit listrik, manufaktur—inspeksi komponen pompa adalah kegiatan rutin yang sangat kritis. Poros, impeller, casing, dan bearing harus diperiksa kekerasannya untuk memastikan keandalan operasional dan mencegah kegagalan mendadak. Di sinilah muncul dilema: ketika harus mengukur kekerasan langsung di lapangan, metode portabel mana yang paling tepat digunakan, UCI (Ultrasonic Contact Impedance) atau Leeb (dynamic rebound)? Kedua metode ini mendominasi pasar alat uji kekerasan portabel di Indonesia, namun masing‑masing memiliki prinsip, keunggulan, dan keterbatasan yang belum banyak dipahami. Artikel ini akan menjadi panduan definitif untuk menjawab kebingungan tersebut. Anda akan memperoleh perbandingan teknis mendalam, panduan pemilihan berdasarkan karakteristik setiap komponen pompa, solusi troubleshooting untuk hasil uji yang tidak konsisten, serta rekomendasi alat kombinasi Novotest T‑UD3 yang dapat menangani keduanya—dilengkapi studi kasus nyata kegagalan poros pompa dari prosiding nasional.
- Mengenal Metode Uji Kekerasan Portabel: UCI dan Leeb
- Perbandingan Kunci Metode UCI vs Leeb: Kapan Menggunakan yang Mana?
- Mengatasi Masalah Umum: Hasil Uji Kekerasan Tidak Konsisten
- Solusi Terbaik: Alat Kombinasi UCI+Leeb untuk Inspeksi Pompa Berat
- Kesimpulan
- Referensi
Mengenal Metode Uji Kekerasan Portabel: UCI dan Leeb
Alat uji kekerasan portabel bekerja dengan prinsip yang berbeda dari alat stasioner laboratorium. Alat portabel tidak memerlukan preparasi spesimen yang rumit, dapat langsung disentuhkan ke permukaan komponen, serta memberikan hasil dalam hitungan detik. Dua metode portable yang paling umum adalah UCI dan Leeb. Keduanya diakui oleh standar internasional, tetapi memiliki mekanisme pengukuran yang fundamental berbeda. Pemahaman yang tepat tentang prinsip kerja masing‑masing akan membantu Anda memilih metode yang sesuai, menghindari bias pengukuran, dan menjaga integritas data inspeksi.
Prinsip Kerja Metode UCI (Ultrasonic Contact Impedance)
Metode UCI mengukur kekerasan melalui pergeseran frekuensi resonansi sebuah batang ultrasonik yang ujungnya dipasangi indentor intan Vickers. Batang ini bergetar pada frekuensi tinggi, sekitar 70–78 kHz, saat tidak dibebani [2]. Ketika indentor ditekan ke permukaan material dengan gaya tertentu (biasanya 1 kgf, 5 kgf, atau 10 kgf), frekuensi resonansi meningkat. Besarnya pergeseran frekuensi berkorelasi langsung dengan luas kontak indentasi—semakin keras material, semakin kecil indentasi, dan semakin besar pergeseran frekuensi yang terdeteksi. Karena probe menggunakan indentor statis yang ditekan perlahan dan hanya meninggalkan jejak mikroskopis (Vickers), metode ini dianggap paling non‑destruktif di antara semua teknik portable hardness testing [1].
Keunggulan UCI sangat terasa pada komponen tipis, ringan, dan yang memiliki lapisan permukaan hasil perlakuan panas. Standar ASTM A1038 [5] dan DIN 50159 [7] mengatur bahwa massa benda uji minimal hanya 0,3 kg dengan ketebalan minimum 5 mm hingga 15 mm (tergantung standar yang dirujuk), jauh lebih ringan dan tipis dibandingkan persyaratan Leeb [1]. UCI juga tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau posisi pengukuran, sehingga ideal untuk inspeksi di area yang sulit dijangkau. Namun, UCI memerlukan permukaan yang cukup halus (kekasaran Ra ≤ 0,8 µm) dan operator yang terlatih untuk menjaga probe tetap tegak lurus (±5°) serta memahami pengaruh modulus Young material. Untuk baja tahan karat austenitik seperti SS316 yang banyak dipakai pada poros pompa, kompensasi modulus Young melalui pengaturan CAL adjustment number menjadi krusial agar hasil tetap akurat [2].
Prinsip Kerja Metode Leeb (Dynamic Rebound)
Berbeda dengan UCI, metode Leeb mengukur kekerasan berdasarkan energi pantul. Sebuah impact body dari tungsten karbida ditembakkan oleh pegas ke permukaan benda uji, lalu kecepatan pantulannya dibandingkan dengan kecepatan tumbukan. Nilai kekerasan Leeb (HL) dihitung dengan rumus HL = (vR / vA) × 1000, di mana vR dan vA adalah kecepatan rebound dan impact [4]. Metode ini sangat cepat, dalam hitungan detik sudah menghasilkan pembacaan, dan tersedia dalam berbagai tipe impact device (D, DC, DL, C, G, dan lainnya) untuk menjangkau geometri permukaan yang berbeda.
Metode Leeb sangat praktis untuk komponen besar dan berat—peralatan besar seperti casing pompa, pipa tebal, dan shaft berdiameter besar menjadi sasaran ideal. Namun, keakuratannya sangat bergantung pada massa dan ketebalan benda uji. Menurut Equotip Application Booklet [1], untuk impact device tipe D yang paling umum, benda uji harus memiliki bobot minimal 5 kg dan ketebalan minimal 25 mm. Bila massa benda uji tidak mencukupi, komponen akan menyerap sebagian energi tumbukan dan menghasilkan nilai yang lebih rendah dari sebenarnya—fenomena “self‑oscillation” yang menyebabkan bias pengukuran. Untuk impact device G yang digunakan pada material sangat keras atau permukaan kasar, syarat massa naik menjadi 15 kg dengan ketebalan 70 mm, sedangkan tipe C yang lebih ringan hanya memerlukan 1,5 kg dan 15 mm. SNI 8461:2017 [6] juga menetapkan temperatur pengujian antara 4°C hingga 38°C agar hasil valid. Meski Leeb sering disebut non‑destruktif, pada material lunak atau permukaan yang telah difinishing, impact body dapat meninggalkan bekas—sesuatu yang harus dihindari pada komponen dengan nilai estetika tinggi atau toleransi ketat.
Perbandingan Kunci Metode UCI vs Leeb: Kapan Menggunakan yang Mana?
Untuk memudahkan pengambilan keputusan, tabel berikut merangkum perbedaan teknis utama antara UCI dan Leeb berdasarkan data dari ASTM, DIN, dan Equotip Application Booklet [1].
| Parameter | Metode UCI | Metode Leeb (tipe D) |
|---|---|---|
| Prinsip | Pergeseran frekuensi ultrasonik (78 kHz) | Rasio kecepatan rebound (HL) |
| Indentor | Intan Vickers (beban 1–10 kgf) | Bola tungsten karbida (impact body) |
| Massa benda uji min. | 0,3 kg | 5 kg |
| Ketebalan min. | 5–15 mm | 25 mm |
| Kekasaran permukaan (Ra) | ≤ 0,8 µm | ≤ 2 µm |
| Ukuran indentasi | Sangat kecil (mikrometrik) | Relatif lebih besar (diameter ~0,6 mm) |
| Pengaruh orientasi | Tidak ada | Perlu kompensasi gravitasi |
| Kecepatan uji (rata‑rata) | 5–10 detik per titik | 2–3 detik per titik |
| Standar utama | ASTM A1038 [5], DIN 50159 [7] | ASTM A956 [4], SNI 8461:2017 [6] |
Angka‑angka ini menunjukkan bahwa UCI unggul untuk komponen kecil, tipis, dan membutuhkan presisi tinggi tanpa meninggalkan jejak, sementara Leeb menawarkan kecepatan dan kemudahan untuk struktur besar. Namun, di industri pompa, Anda akan menghadapi berbagai bentuk dan ukuran komponen. Maka, panduan aplikatif berdasarkan jenis komponen menjadi lebih penting daripada sekadar aturan umum.
Panduan Pemilihan Metode Berdasarkan Komponen Pompa
Setelah memahami aspek teknis, saatnya menerjemahkan ke dalam skenario lapangan. Berikut rekomendasi pemilihan metode untuk komponen pompa utama berdasarkan pengalaman praktisi NDT dan standar yang dirujuk.
- Poros (Shaft) berdiameter besar dan padat – Gunakan Leeb (impact device D atau DC). Poros seperti ini umumnya memiliki bobot di atas 5 kg dan tebal >25 mm, sehingga Leeb memberikan hasil yang andal dengan cepat. Bila poros telah di‑machining hingga permukaan halus, pastikan persiapan permukaan sesuai dan gunakan impact device dengan gaya rendah (tipe D) untuk meminimalkan bekas.
- Poros kecil, berongga, atau tipis – Pilih UCI. Poros pompa bertingkat dengan diameter bajo, atau poros yang dilapisi hard chrome, mungkin tidak memenuhi syarat massa dan ketebalan Leeb. UCI dengan beban 5 kgf dapat mengukur ketebalan hingga 1 mm dan tidak memerlukan massa minimum yang besar.
- Impeller dengan sudu melengkung dan celah sempit – Kombinasi: UCI dengan probe kecil atau Leeb tipe DC/DL yang didesain untuk alur dan gigi. Permukaan impeller sering berkontur; pastikan probe dapat menempel tegak lurus. Jika ketebalan sudu kurang dari 5 mm, UCI adalah satu‑satunya pilihan yang aman.
- Casing pompa (volute, rumah bearing) – Untuk casing tebal (>25 mm) dan berat, Leeb sangat praktis. Namun jika casing memiliki lapisan hardfacing atau ketebalan dinding bervariasi (misal di daerah dekat volute lid yang tipis), gunakan UCI untuk memeriksa kekerasan lapisan tanpa dipengaruhi substrat di bawahnya.
- Bearing raceway dan rolling element – Wajib UCI. Bagian ini biasanya kecil, tipis, dan memerlukan ketelitian tinggi. Indentasi UCI yang sangat kecil tidak akan memengaruhi kinerja bearing. Selain itu, UCI dapat mendeteksi perubahan kekerasan mikro pada lintasan akibat overheating.
- Heat-affected zone (HAZ) pada sambungan las – UCI adalah pilihan utama. Zona HAZ seringkali sempit dan mengalami perubahan struktural yang tajam. UCI mampu melakukan indentasi lokal tanpa merusak, sehingga Anda dapat memetakan profil kekerasan melintasi weld, HAZ, dan base metal dengan presisi.
Pada semua kasus, persiapan permukaan tidak boleh diabaikan: bersihkan kotoran, kerak, atau cat, lalu haluskan area uji sesuai standar kekasaran yang disyaratkan metode yang dipilih. Untuk material stainless steel austenitik (SS304, SS316) yang banyak dipakai di pompa, pastikan Anda melakukan kompensasi modulus Young pada UCI atau menggunakan blok referensi yang sesuai untuk Leeb, karena sifat elastisitas yang berbeda dapat memberikan hasil konversi yang bias [2].
Studi Kasus: Kegagalan Poros Pompa Akibat Fluktuasi Kekerasan
Untuk menegaskan mengapa pemilihan metode dan konsistensi hasil uji kekerasan bukan sekadar kepatuhan prosedur, mari kita telaah kasus nyata dari dunia industri Indonesia. Dalam penelitian yang dipresentasikan pada SNTTM XVI 2017, Gunawan Dwi Haryadi dan tim dari Universitas Diponegoro menganalisis kegagalan poros pompa sirkulasi air di sebuah pembangkit listrik [3]. Material poros adalah baja tahan karat austenitik AU 79 TY 316 (setara SS316) yang seharusnya memiliki kekerasan pada kisaran 159–173 HV. Pemeriksaan dengan mikro‑Vickers (ASTM E384) pada penampang poros yang patah mengungkapkan fakta kritis:
“…kekerasan pada poros yang patah jauh lebih tinggi jika dibandingkan poros bagian atas dan memiliki perbedaan kekerasan yang sangat fluktuatif. … kekerasan yang sangat fluktuatif tersebut disebabkan karena pada poros yang patah mengandung lebih banyak fasa perlit dibandingkan poros bagian atas. … dengan tingkat kekerasan yang tinggi menghasilkan laju perambatan retak yang cepat…” [3]
Dengan kata lain, nilai kekerasan yang tidak homogen dan melonjak drastis menjadi indikator awal (leading indicator) adanya perubahan mikrostruktur yang berpotensi menyebabkan patah getas. Jika inspeksi rutin menggunakan metode Leeb dengan impact device yang luasnya mencakup area relatif besar, fluktuasi lokal semacam ini mungkin tidak terdeteksi atau dirata‑ratakan. Sebaliknya, metode mikro‑Vickers—yang prinsip indentasi statisnya mirip UCI—mampu menampilkan detail perbedaan kekerasan antar titik. Kasus ini membuktikan bahwa pemilihan metode uji kekerasan yang tepat bukan hanya soal akurasi angka, melainkan kemampuan mendeteksi sinyal dini kegagalan (predictive maintenance).
Mengatasi Masalah Umum: Hasil Uji Kekerasan Tidak Konsisten
Keluhan paling sering dari operator di lapangan adalah hasil uji yang bervariasi antar pengukuran, bahkan pada material yang sama. Masalah ini dapat berasal dari alat, prosedur, atau karakteristik benda uji. Dengan memahami akar penyebabnya, Anda bisa segera mengambil tindakan korektif dan meningkatkan keandalan data inspeksi.
Penyebab & Solusi Inkonsistensi pada Metode Leeb
- Massa dan ketebalan tidak memenuhi syarat. Jika poros atau casing yang diuji terlalu ringan, benda akan bergetar saat impact. Solusi: kopling benda uji ke massa besar (misalnya pelat baja tebal) menggunakan petroleum jelly atau coupling paste agar energi rebound hanya dipengaruhi kekerasan permukaan, bukan getaran keseluruhan [1].
- Permukaan terlalu kasar. Goresan mesin atau karat mengganggu pantulan bola impact. Amplas area uji hingga Ra ≤ 2 µm, dan bersihkan dengan alkohol.
- Posisi pengukuran tidak datar. Pengujian pada permukaan miring, vertikal, atau overhead mengubah pengaruh gravitasi terhadap impact body. Pastikan kompensasi arah diaktifkan pada alat atau gunakan support ring khusus. SNI 8461:2017 mewajibkan verifikasi alat setiap akan memulai pengukuran di lokasi baru [6].
- Impact device aus atau kotor. Bola tungsten atau mekanisme pegas yang sudah usang akan menghasilkan energi yang tidak konsisten. Bersihkan dan kalibrasi secara berkala, dan ganti suku cadang hanya dengan komponen asli.
Penyebab & Solusi Inkonsistensi pada Metode UCI
- Probe tidak tegak lurus. Penyimpangan lebih dari 5° dari sumbu vertikal menyebabkan distribusi tegangan tidak merata. Gunakan guide sleeve atau jig sederhana untuk menstabilkan posisi.
- Permukaan kurang halus. UCI memerlukan Ra ≤ 0,8 µm. Bila permukaan terlalu kasar, poles dengan amplas grit 400–600 hingga mengkilap.
- Modulus Young material berbeda. Baja karbon biasa memiliki E-modulus sekitar 210 GPa, sementara SS316 sekitar 193 GPa, dan paduan titanium bisa jauh lebih rendah. Alat UCI mengandalkan kompensasi modulus untuk mengkonversi pergeseran frekuensi menjadi kekerasan. Jika jenis material tidak sesuai dengan setelan CAL adjustment number, penyimpangan sistematis akan terjadi. Selalu kalibrasi alat pada blok referensi dari kelompok material yang sama dengan benda uji [2].
- Keausan indentor intan. Ujung intan yang tumpul akan menghasilkan indentasi lebih besar dan nilai kekerasan lebih rendah. Lakukan verifikasi harian dengan blok referensi dan catat nilainya untuk mendeteksi tren penurunan.
Checklist Harian Sebelum Pengujian
Untuk meminimalkan risiko inkonsistensi, terapkan daftar periksa berikut yang diadaptasi dari standar dan panduan pabrikan:
- Verifikasi alat menggunakan blok referensi yang sesuai dengan skala yang akan digunakan (misal blok HL atau HV). Pastikan selisih hasil tidak melampaui toleransi yang diizinkan standar.
- Periksa daya baterai—sebagian alat tidak akurat mendekati batas minimum.
- Bersihkan permukaan benda uji hingga standar kekasaran terpenuhi; hilangkan debu dan minyak.
- Untuk Leeb, pastikan benda uji masif atau dicoupling dengan massa besar; untuk UCI, pastikan probe murni dan tidak longgar.
- Ukur temperatur lingkungan dan benda uji. Pastikan dalam rentang 4–38°C (SNI 8461:2017) [6].
- Siapkan catatan hasil verifikasi dan pengukuran—dokumentasi yang baik memudahkan audit dan analisis tren.
Solusi Terbaik: Alat Kombinasi UCI+Leeb untuk Inspeksi Pompa Berat
Setelah memahami kekuatan dan kelemahan masing‑masing metode, timbul pertanyaan: bagaimana jika inspeksi Anda mencakup semua jenis komponen—dari poros masif hingga bearing kecil? Membeli dua alat terpisah tentu membebani anggaran, pelatihan operator, dan logistik. Inilah mengapa alat kombinasi yang mengintegrasikan UCI dan Leeb dalam satu unit menjadi solusi logis. Salah satu yang paling lengkap di pasar Indonesia adalah Novotest T-UD3, yang dirancang untuk fleksibilitas maksimum di lingkungan industri berat.
Keunggulan Teknis Novotest T-UD3
Novotest T-UD3 bukan sekadar alat ukur, melainkan sistem inspeksi portabel yang menyatukan dua standar internasional: ASTM A956 (Leeb) dan ASTM A1038 (UCI). Dari brosur teknis [8] dan informasi distributor, fitur‑fitur unggulannya antara lain:
- Dual method switching: Pengguna dapat berganti antara UCI (dengan pilihan probe 1, 5, atau 10 kgf) dan Leeb (mendukung impact device D, DC, DL, C, G, dan lainnya) hanya dengan mengganti probe.
- Smart Mode: Secara cerdas menyaring pengukuran yang tidak valid akibat getaran, penempatan miring, atau permukaan tidak bersih—langsung meningkatkan repeatability data.
- Kamera internal terintegrasi: Untuk mendokumentasikan posisi pengukuran dan kondisi permukaan secara visual, krusial dalam pelaporan inspeksi dan audit.
- Waterproof housing: Memungkinkan pengoperasian di lingkungan pompa yang lembap atau terpapar cipratan air.
- Penyimpanan data hingga 32 GB melalui kartu SD, cukup untuk ribuan laporan, lengkap dengan mode Graph, Histogram, Statistics, dan Signal Analysis.
- Bobot ringan (0,3 kg) dengan baterai 3x AA, mudah dibawa ke lapangan.
Dengan T-UD3, Anda dapat menginspeksi poros besar menggunakan Leeb, lalu segera beralih ke UCI untuk mengukur kekerasan case hardening pada bearing seat—semua dalam satu alat. Hal ini mengurangi duplikasi peralatan dan memungkinkan standarisasi prosedur di seluruh fasilitas.
Analisis Biaya dan Total Cost of Ownership (TCO)
Di tingkat harga, Novotest T-UD3 dibanderol sekitar Rp 75,5 juta di Indonesia [8], sementara secara internasional harga sekitar AED 10,800 (~Rp 47 juta) di luar bea dan distribusi. Angka ini jelas lebih tinggi dibanding Leeb tester ekonomis seperti SNDWAY SW6200 (Rp 4–5 juta) atau UCI portabel mandiri seperti CIMETRIX TCM-U2-A (~Rp 32 juta). Namun, perspektif biaya kepemilikan jangka panjang (Total Cost of Ownership) memberikan gambaran berbeda.
Skenario jika Anda membeli dua alat terpisah:
- Leeb ekonomis: Rp 5 juta
- UCI mandiri: Rp 32 juta
Total investasi awal: Rp 37 juta. Ditambah dua kali pelatihan operator, dua interval kalibrasi tahunan, dan dua set suku cadang. Bila terjadi kerusakan, Anda harus mengirim dua alat berbeda untuk servis. Waktu henti operasional akibat menunggu alat kembali bisa lebih lama.
Dengan T-UD3, satu kalibrasi tahunan mencakup seluruh fungsi, satu pelatihan operator, dan satu set spare probe yang terintegrasi. Selain itu, fitur Smart Mode mengurangi risiko kesalahan pengukuran yang dapat berujung pada false reject atau false accept komponen. Bayangkan biaya satu kali kegagalan pompa di pembangkit listrik atau kilang minyak—jauh melampaui selisih harga alat. Studi kasus kegagalan poros di atas menunjukkan bahwa deteksi dini fluktuasi kekerasan dapat mencegah kerugian ratusan juta rupiah akibat kerusakan sekunder.
Dengan mempertimbangkan biaya total selama 5 tahun, kombinasi efisiensi, akurasi, dan pengurangan risiko kegagalan membuat T-UD3 menjadi investasi yang sangat kompetitif, bahkan lebih ekonomis daripada memiliki dua alat terpisah, terutama bagi perusahaan yang mengelola puluhan unit pompa kritis.
Kesimpulan
Pertarungan antara metode UCI dan Leeb sering disalahartikan sebagai pencarian “yang terbaik”. Nyatanya, tidak ada metode yang lebih superior secara mutlak; yang ada hanyalah metode yang paling sesuai dengan karakteristik komponen yang Anda uji. Poros masif dan casing tebal akan diukur dengan cepat dan handal oleh Leeb, sementara sudu impeller tipis, bearing, dan area HAZ memerlukan presisi non‑destruktif UCI. Memilih secara keliru bukan hanya membuang waktu, tapi bisa mengaburkan indikasi kerusakan dini seperti yang terjadi pada kasus kegagalan poros pompa.
Alat kombinasi seperti Novotest T-UD3 menjembatani jurang antara kedua metode ini. Dengan investasi awal yang sedikit lebih tinggi, Anda mendapatkan fleksibilitas penuh, akurasi yang terverifikasi, dan pengurangan total biaya kepemilikan jangka panjang. Ditambah lagi, dukungan distributor resmi di Indonesia memastikan alat Anda selalu terkalibrasi dan siap pakai.
Mari tingkatkan standar inspeksi komponen pompa di fasilitas Anda. CV. Java Multi Mandiri sebagai pemasok dan distributor alat ukur dan pengujian, mengkhususkan diri melayani kebutuhan bisnis dan industri, termasuk solusi hardness tester portabel untuk optimalisasi operasional perusahaan Anda. Untuk konsultasi lebih lanjut mengenai pilihan alat yang tepat bagi kebutuhan komersial dan teknis Anda, jangan ragu untuk menghubungi kami dan diskusikan kebutuhan perusahaan Anda.
Rekomendasi Hardness Tester
-

Alat Uji Kekerasan Logam NOVOTEST TB-B-C – Brinell Hardness Tester
Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Tester Kekerasan Digital Vickers NOVOTEST TB-V-50
Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Alat Uji Kekerasan Lapisan dengan Uji Gores Pensil NOVOTEST TPK-1 – Pencil Hardness Tester
Rp14.812.500,00Lihat produkRated 5 out of 5 based on 1 customer rating -

Brinell Test Blocks NOVOTEST HB
Rp8.812.500,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Alat Penguji Kekerasan Micro Vickers Digital NOVOTEST TB-MCV-1M
Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Bench Hardness Tester NOVOTEST TB-MCV-1
Rp68.100.000,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Test Blocks NOVOTEST HRC
Rp6.500.000,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Alat Penguji Ketebalan Vickers Digital NOVOTEST TB-V-10
Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating
Disclaimer: Informasi harga dan spesifikasi produk dapat berubah. Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan saran teknis profesional. Selalu konsultasikan dengan distributor resmi sebelum melakukan pembelian.
Referensi
- Frank, S., Frehner, C., & Akhlaghi, A. (n.d.). Portable Hardness Testing Leeb, Portable Rockwell and UCI (Equotip Application Booklet). Proceq SA (Screening Eagle Technologies). https://media.screeningeagle.com/asset/Downloads/Equotip_Application_Booklet…
- Tietze, M. (n.d.). Mobile Vickers hardness testing with UCI to reduce the workload of test personnel. Institut Dr. Foerster GmbH & Co. KG. https://blog.foerstergroup.com/en/component-testing/mobile-vickers-hardness-measurement-with-uci
- Haryadi, G.D., Pertiwanda, S., & Ismail, R. (2017, Oktober). Failure Analysis on Shaft of Circulating Water Pump at Power Plant. Prosiding SNTTM XVI, MT-08, 32-37. Badan Kerjasama Teknik Mesin Indonesia. https://prosiding.bkstm.org/prosiding/2017/MT-08.pdf
- ASTM International. (n.d.). ASTM A956: Standard Test Method for Leeb Hardness Testing of Steel Products.
- ASTM International. (n.d.). ASTM A1038: Standard Test Method for Portable Hardness Testing by the Ultrasonic Contact Impedance Method.
- Badan Standardisasi Nasional. (2017). SNI 8461:2017: Metode uji kekerasan Leeb untuk besi dan baja.
- Deutsches Institut für Normung. (n.d.). DIN 50159: Metallic materials – Hardness testing with the UCI method.



