Dalam proyek konstruksi modern, waktu adalah uang, dan kepastian adalah segalanya. Site engineer, manajer QA/QC, dan kontraktor seringkali terbebani oleh proses pengujian beton yang lambat, mahal, dan rentan terhadap ketidakakuratan. Metode konvensional dapat menghambat progres proyek, menunda pengambilan keputusan kritis, dan menimbulkan keraguan terhadap integritas struktur. Di tengah tantangan ini, Schmidt hammer digital hadir sebagai solusi transformatif, mengubah paradigma pengujian non-destruktif dengan mengintegrasikan presisi teknologi mikroprosesor dan kepatuhan terhadap standar internasional seperti ASTM C805 serta nasional (SNI).
Artikel ini merupakan panduan otoritatif dan praktis bagi profesional konstruksi di Indonesia. Kami akan mengupas tuntas mulai dari prinsip kerja dan spesifikasi teknis alat, prosedur standar yang harus diikuti, analisis komparatif mendalam dengan metode lain, hingga panduan langkah-demi-langkah operasional di lapangan. Tujuannya tunggal: memampukan Anda untuk mencapai akurasi maksimal, efisiensi biaya, dan kepatuhan proyek melalui pemanfaatan Schmidt hammer digital yang optimal.
- Apa Itu Schmidt Hammer Digital? Prinsip Kerja dan Spesifikasi Teknis
- Prosedur Standar Pengujian: Mengikuti ASTM C805 dan SNI dengan Tepat
- Analisis Komparatif: Schmidt Hammer Digital vs. Analog vs. Metode Uji Lain
- Panduan Praktis Lapangan: Cara Menggunakan Schmidt Hammer Digital dari A sampai Z
- Strategi Meningkatkan Efisiensi dan Membenarkan Investasi
- Kesimpulan
- Referensi
Apa Itu Schmidt Hammer Digital? Prinsip Kerja dan Spesifikasi Teknis
Schmidt hammer digital adalah alat uji beton non-destruktif generasi terbaru yang digunakan untuk menilai kekerasan permukaan dan keseragaman beton keras. Prinsip dasarnya tetap mengandalkan hukum kekekalan momentum yang dikenal sebagai prinsip kerja rebound hammer: sebuah massa yang dikenakan pegas ditembakkan ke permukaan beton, dan tingkat pantulannya (rebound number) diukur. Semakin keras dan padat permukaan beton, semakin tinggi nilai pantulannya.
Yang membedakan versi digital dari pendahulu analognya adalah integrasi mikroprosesor cerdas. Alat ini tidak lagi mengandalkan pembacaan manual pada skala analog yang rentan error, tetapi secara otomatis mencatat, mengolah, dan menyimpan setiap nilai rebound. Evolusi ini menghasilkan data yang lebih objektif, terdokumentasi rapi, dan siap dianalisis untuk mendukung keputusan teknis dan administratif di proyek.
Cara Kerja Mikroprosesor dalam Schmidt Hammer Digital
Mikroprosesor dalam Schmidt hammer digital berfungsi sebagai otak yang mengotomatisasi seluruh proses pengukuran. Saat palu ditempatkan tegak lurus pada beton dan ditekan, mekanisme internal melepas massa yang menumbuk permukaan. Sensor kemudian mendeteksi kecepatan pantulan massa tersebut. Mikroprosesor langsung menghitung nilai rebound, menyimpannya dalam memori internal, dan seringkali langsung menampilkan hasilnya pada layar digital.
Keunggulan kunci dari otomatisasi ini adalah eliminasi human error dalam pembacaan, konsistensi yang sangat tinggi (dengan variasi sampel ≤±0,5), serta kemampuan melakukan pengolahan data dasar seperti penghitungan rata-rata, standar deviasi, dan bahkan penghapusan otomatis terhadap nilai outlier yang tidak valid. Bandingkan dengan proses manual pada alat analog, di mana operator harus membaca skala secara visual, mencatat manual di kertas, dan kemudian melakukan perhitungan ulang—sebuah proses yang memakan waktu dan berisiko kesalahan.
Spesifikasi Kunci dan Batasan Pengukuran
Sebagai alat ukur presisi, Schmidt hammer digital memiliki spesifikasi teknis yang mendefinisikan kemampuannya. Memahami spesifikasi ini penting untuk memastikan alat sesuai dengan kebutuhan proyek. Berikut adalah ringkasan spesifikasi kunci berdasarkan data dari produsen terkemuka:
- Rentang Pengukuran: 10 – 60 MPa (Megapascal). Ini menunjukkan kisaran kekuatan beton yang dapat diestimasi oleh alat.
- Energi Impak (Impact Energy): 2.207 Joule. Ini adalah energi yang dikenakan massa ke permukaan beton, distandarisasi untuk memastikan konsistensi.
- Konstanta Pegas (Spring Constant): 785 Nm.
- Ekstensi Pegas (Spring Extension): 75 mm.
- Penyimpanan Data: Mencapai 408.000 hasil pengujian, memungkinkan dokumentasi yang ekstensif untuk proyek besar atau jangka panjang.
- Konektivitas: Port USB untuk ekspor data ke komputer.
- Konsistensi: ≤ ±0.5 (pada pengujian material yang homogen).
Penting untuk diingat bahwa hammer test terutama mengukur kekerasan permukaan beton. Hasilnya dapat dipengaruhi oleh faktor di bawah permukaan seperti ukuran agregat kasar, rongga, atau kondisi kelembaban internal. Oleh karena itu, alat ini paling efektif digunakan untuk menilai keseragaman, mengidentifikasi area yang lemah, dan—dengan korelasi yang tepat—mengestimasi kekuatan tekan, bukan sebagai pengganti mutlak untuk uji tekan destruktif (core test).
Untuk pemahaman lebih mendalam tentang prinsip umum pengujian non-destruktif beton, termasuk rebound hammer, Panduan Komprehensif Pengujian Non-Destruktif Beton dari NRC-IRC menyediakan penjelasan teknis yang sangat baik.
Prosedur Standar Pengujian: Mengikuti ASTM C805 dan SNI dengan Tepat
Kredibilitas hasil pengujian sangat bergantung pada kepatuhan terhadap prosedur standar. Di tingkat internasional, metode uji angka pantul diatur dalam ASTM C805 (Standard Test Method for Rebound Number of Hardened Concrete). Di Indonesia, standar ini diadopsi menjadi SNI ASTM C805:2012. Kedua standar ini menekankan bahwa nilai rebound utamanya adalah alat untuk menilai keseragaman beton dalam satu struktur dan mengestimasi kekuatan in-situ, dengan catatan kritis: “hubungan antara angka pantul dan kuat tekan beton yang disediakan pabrikan alat hanya boleh digunakan untuk memberikan indikasi kekuatan relatif beton di berbagai lokasi dalam suatu struktur” [1]. Untuk estimasi kekuatan yang lebih akurat, suatu hubungan korelasi spesifik harus dikembangkan untuk campuran beton dan alat yang digunakan.
Standar juga secara tegas menyatakan bahwa “pengujian dilaksanakan untuk menyelidiki secara cepat suatu area yang luas… akan tetapi tidak dimaksudkan sebagai alternatif untuk menetapkan kekuatan beton” [2]. Ini adalah disclaimer profesional yang sangat penting untuk diingat.
Langkah-langkah Persiapan dan Kalibrasi yang Kritis
Sebelum pengujian dimulai, dua hal mendasar harus dipastikan: kondisi permukaan beton dan kalibrasi alat.
- Persiapan Permukaan: Area uji harus rata, bersih dari debu, kotoran, atau lapisan lepas. Permukaan yang terlalu kasar harus diratakan dengan gerinda batu. Kelembaban permukaan yang berlebihan juga dapat mempengaruhi hasil, sehingga perlu dikeringkan.
- Kalibrasi Alat: Kalibrasi adalah kunci akurasi. Schmidt hammer digital harus dikalibrasi secara berkala menggunakan steel anvil (landasan baja kalibrasi). Nilai rebound yang terbaca pada anvil ini harus berada dalam rentang 80 ± 2. Proses kalibrasi ini memastikan bahwa mekanisme pegas dan sensor alat berfungsi dalam toleransi yang ditetapkan. Banyak alat digital modern memiliki prosedur kalibrasi mandiri yang dipandu melalui menu di layar.
Checklist Persiapan Pengujian:
- Periksa tanggal kalibrasi alat (idealnya tahunan).
- Lakukan kalibrasi cepat di lapangan dengan steel anvil.
- Pastikan permukaan beton rata, bersih, dan kering.
- Identifikasi dan tandai minimal 10 titik uji per lokasi yang diwakili.
- Pastikan orientasi palu (horizontal, vertikal ke atas/bawah) dicatat, karena mempengaruhi pembacaan.
Interpretasi Hasil: Mengkonversi Nilai Rebound ke Kuat Tekan
Setelah mendapatkan sejumlah nilai rebound (minimal 10 pembacaan per lokasi seperti direkomendasikan praktik terbaik), langkah berikutnya adalah interpretasi. Nilai rata-rata rebound ini kemudian perlu dikonversi menjadi estimasi kuat tekan (MPa). Konversi ini TIDAK universal.
Cara paling akurat adalah dengan memiliki grafik korelasi khusus yang dikembangkan untuk campuran beton, usia, dan alat yang sama persis di proyek Anda, seperti disyaratkan dalam ASTM C805 [1]. Dalam praktiknya, banyak yang menggunakan grafik umum dari produsen atau standar sebagai panduan awal, dengan memahami margin errornya. Faktor koreksi untuk kelembaban, usia beton (derajat hidrasi), dan karbonasi permukaan juga harus dipertimbangkan.
Laporan American Concrete Institute (ACI 228.1R-19) menegaskan bahwa “uji rebound hammer digunakan untuk menilai keseragaman beton di tempat, menggambarkan daerah dalam struktur dengan kualitas beton yang buruk atau telah memburuk, dan untuk mengestimasi perkembangan kekuatan di tempat” [3]. Artinya, alat ini sangat berharga untuk penilaian komparatif dan tren, bukan penilaian absolut tunggal.
Untuk wawasan lebih luas tentang metode dan interpretasi pengujian non-destruktif, Panduan IAEA tentang Pengujian Non-Destruktif Struktur Beton dan Dokumen Standar Pemerintah AS tentang Metode Evaluasi Non-Destruktif Beton merupakan sumber otoritatif. Sementara untuk konteks penerapan standar di Indonesia, Jurnal Teknis tentang SNI ASTM C805:2012 dan Aplikasi Hammer Test di Indonesia dapat menjadi referensi yang relevan.
Analisis Komparatif: Schmidt Hammer Digital vs. Analog vs. Metode Uji Lain
Memilih alat dan metode uji yang tepat adalah keputusan strategis yang mempengaruhi biaya, waktu, dan kualitas proyek. Berikut analisis komparatif untuk membantu Anda memutuskan.
Digital vs. Analog: Mana yang Lebih Baik untuk Proyek Anda?
| Aspek | Schmidt Hammer Digital | Schmidt Hammer Analog |
|---|---|---|
| Akurasi & Konsistensi | Tinggi (Konsistensi ≤±0.5). Perhitungan otomatis oleh mikroprosesor menghilangkan human error. | Sedang. Bergantung pada ketelitian operator dalam membaca skala pointer. Rentan parallax error. |
| Kecepatan Pengujian | Sangat Cepat. Pembacaan instan, penyimpanan otomatis. Ideal untuk survei area luas. | Lambat. Membaca dan mencatat manual setiap titik memakan waktu lebih lama. |
| Dokumentasi Data | Luar Biasa. Menyimpan hingga 408.000 data, ekspor mudah via USB untuk analisis dan laporan. | Terbatas & Rentan Salah. Pencatatan manual di kertas, berisiko kehilangan atau kesalahan salin. |
| Pengolahan Data | Otomatis. Dapat menghitung rata-rata, deviasi, menghapus outlier. | Manual. Perlu perhitungan ulang secara terpisah. |
| Biaya Awal | Lebih Tinggi. Investasi di depan untuk teknologi dan fitur. | Lebih Rendah. Pilihan biaya awal yang terjangkau. |
| ROI Jangka Panjang | Sangat Baik. Penghematan waktu tenaga kerja, pencegahan kesalahan, dan kualitas dokumen yang superior. | Terbatas. Biaya operasional tersembunyi dari proses yang lambat dan potensi kesalahan. |
| Kemudahan Pelatihan | Relatif Mudah. Antarmuka digital membimbing pengguna. | Membutuhkan pengalaman. Membaca skala analog memerlukan pelatihan. |
Kesimpulan Pemilihan:
- Pilih Schmidt hammer analog jika: Anggaran sangat ketat, penggunaan sangat jarang (misal, untuk proyek skala sangat kecil atau sebagai alat cadangan), dan kebutuhan dokumentasi/data minimal.
- Investasi dalam Schmidt hammer digital sangat disarankan untuk: Proyek konstruksi berskala medium hingga besar, kebutuhan akurasi dan konsistensi tinggi (seperti proyek infrastruktur), audit kualitas yang ketat, serta keinginan untuk mendigitalisasi dan meningkatkan efisiensi proses QA/QC.
Posisi Hammer Test dalam Ekosistem Pengujian Beton
Schmidt hammer digital adalah salah satu alat dalam toolkit pengujian beton non-destruktif. Memahami posisinya membantu menggunakannya secara efektif:
- Kekuatan (Best For): Penilaian cepat keseragaman (uniformity) beton pada permukaan yang dapat diakses, identifikasi area lemah, dan estimasi tren kekuatan in-situ dengan korelasi yang tepat. Sangat baik untuk pemantauan kekuatan saat pembongkaran bekisting atau penghentian perawatan (curing).
- Keterbatasan: Hanya menguji permukaan; hasil dipengaruhi oleh kondisi permukaan, kelembaban, dan finishing.
- Pelengkapnya: Metode NDT lain seperti Ultrasonic Pulse Velocity (UPVT) lebih baik untuk menilai homogenitas dan integritas internal (seperti rongga atau retak). Sementara untuk penilaian kekuatan tekan absolut dan final, Uji Tekan Inti Beton (Core Test) yang destruktif tetap menjadi “standar emas” yang sering diwajibkan dalam spesifikasi teknis.
Laporan ACI 228.1R-19 menempatkan berbagai metode NDT dalam konteks yang saling melengkapi untuk evaluasi struktur yang komprehensif [3]. Dengan demikian, hammer test digital berperan sebagai alat screening awal yang powerful, cepat, dan ekonomis, yang dapat mengarahkan penggunaan metode yang lebih mendetail dan mahal hanya pada area yang memang mencurigakan. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang berbagai metode NDT, Anda dapat merujuk kembali ke Panduan Komprehensif Pengujian Non-Destruktif Beton dari NRC-IRC.
Panduan Praktis Lapangan: Cara Menggunakan Schmidt Hammer Digital dari A sampai Z
Berikut adalah Standard Operating Procedure (SOP) praktis untuk menggunakan Schmidt hammer digital di lapangan.
Langkah-langkah Pengujian dan Pencatatan Data Digital
- Persiapan: Nyalakan alat. Periksa baterai. Masuk ke menu pengaturan dan atur parameter jika diperlukan (misal, nama proyek, lokasi).
- Kalibrasi Awal: Lakukan kalibrasi cepat menggunakan steel anvil untuk memastikan pembacaan 80±2.
- Identifikasi Area Uji: Pilih lokasi yang representatif. Hindari area yang berdekatan dengan bekas cetakan, sambungan, atau tulangan.
- Persiapkan Permukaan: Gunakan gerinda batu untuk meratakan area yang sangat kasar. Bersihkan dari debu dan kotoran.
- Lakukan Pengujian:
- Pegang alat tegak lurus (90°) terhadap permukaan beton.
- Tekan secara stabil hingga mekanisme internal terpicu dan massa terlepas. Alat akan berbunyi “klik” dan mencatat nilai secara otomatis.
- Lakukan minimal 10 pukulan pada satu lokasi yang diwakili. Jarak antar titik pukulan minimal 25 mm.
- Alat akan menyimpan semua nilai. Beberapa model otomatis membuang nilai pertama atau mengabaikan outlier.
- Pindah Lokasi: Setelah 10+ pembacaan, pindah ke grid atau lokasi berikutnya. Ulangi langkah 5. Alat biasanya mengelompokkan data per lokasi.
- Kalibrasi Berkala: Selama pengujian, lakukan kalibrasi ulang dengan anvil setiap beberapa jam atau jika terjadi benturan keras.
Ekspor Data, Analisis, dan Pembuatan Laporan
- Ekspor Data: Hubungkan Schmidt hammer digital ke komputer via kabel USB. Alat akan terdeteksi sebagai drive penyimpanan atau melalui software khusus. Unduh file data (biasanya format .CSV atau .XLS).
- Analisis Data: Buka file di spreadsheet (Excel, Google Sheets). Anda akan mendapatkan kolom data berisi: Nomor Uji, Nilai Rebound, Waktu, Lokasi, dll. Hitung rata-rata dan standar deviasi untuk setiap set data (lokasi). Identifikasi nilai yang jauh dari rata-rata (outlier) untuk ditinjau ulang.
- Pembuatan Laporan Profesional: Susun laporan yang mencakup:
- Informasi proyek dan lokasi uji.
- Spesifikasi alat dan tanggal kalibrasi.
- Tabel hasil pengujian (Lokasi, Jumlah Pembacaan, Rata-rata Rebound, Deviasi Standar).
- Grafik konversi ke estimasi kuat tekan (jika korelasi tersedia) dengan disclaimer yang jelas.
- Kesimpulan tentang keseragaman beton dan identifikasi area yang memerlukan investigasi lebih lanjut.
- Foto lokasi pengujian.
Troubleshooting Singkat:
- Variasi Hasil Tinggi: Periksa keseragaman permukaan, pastikan alat tegak lurus, dan lakukan lebih banyak pembacaan.
- Alat Tidak Mencatat: Periksa memori penuh, atau reset pengaturan.
- Koneksi USB Gagal: Coba kabel berbeda, pastikan driver terinstal (jika diperlukan), atau restart alat & komputer.
Strategi Meningkatkan Efisiensi dan Membenarkan Investasi
Adopsi Schmidt hammer digital bukan sekadar pembelian alat, melainkan investasi dalam efisiensi dan kualitas proses. Berikut strategi untuk memaksimalkan nilai investasi tersebut.
Mengatasi Masalah Umum: Uji Lambat dan Hasil Tidak Akurat
- Solusi untuk “Uji Lambat”:
- Integrasi dengan Jadwal: Jadwalkan pengujian sebagai bagian dari tahapan kerja (misal, setelah pembongkaran bekisting) alih-alih aktivitas terpisah.
- Leverage Kecepatan Digital: Manfaatkan fitur penyimpanan otomatis dan kecepatan baca untuk menutupi area lebih luas dalam waktu yang sama dibanding metode manual.
- Pelatihan Tim: Pastikan lebih dari satu operator terlatih untuk menghindari ketergantungan pada satu orang.
- Solusi untuk “Hasil Tidak Akurat”:
- Kalibrasi Rutin & Sertifikasi: Ikuti jadwal kalibrasi tahunan di lembaga terakreditasi (KAN). Lakukan kalibrasi lapangan harian/mingguan.
- Kontrol Faktor Lapangan: Gunakan checklist persiapan permukaan dan dokumentasikan kondisi (kelembaban, suhu) saat pengujian.
- Pelatihan dan Sertifikasi Operator: Investasi pada pelatihan resmi tidak hanya meningkatkan keterampilan tetapi juga menjadi bukti kompetensi (E-E-A/T) yang berharga untuk audit proyek.
Kalkulasi ROI: Kapan Investasi dalam Schmidt Hammer Digital Terbayarkan?
Membenarkan investasi memerlukan analisis biaya-siklus-hidup (Life Cycle Cost). Berikut contoh perhitungan sederhana:
Asumsi:
- Harga 1 unit Schmidt hammer digital: Rp 45 juta.
- Biaya kalibrasi tahunan: Rp 2 juta.
- Biaya sewa/jasa uji beton konvensional per titik (termasuk mobilisasi): Rp 250.000.
- Proyek membutuhkan rata-rata 200 titik uji per bulan.
Analisis Biaya 2 Tahun:
| Metode | Biaya Awal | Biaya Operasional/Tahun | Total 2 Tahun | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| Sewa Jasa Eksternal | Rp 0 | 200 titik/bln x Rp250k x 12 bln = Rp 600 juta | Rp 1,2 Miliar | Biaya terus menerus, tidak ada aset. |
| Milik Sendiri (Digital) | Rp 45 juta | Kalibrasi Rp 2 jt + Operator | < Rp 50 juta | Penghematan drastis setelah bulan pertama. Aset tetap dimiliki. |
ROI dan Pertimbangan Lain:
- Payback Period: Investasi Rp 45 juta dapat “terbayar” hanya dalam kurang dari 1 bulan dibandingkan dengan terus menyewa jasa eksternal (asumsi proyek berjalan normal).
- Penghematan Tidak Langsung: Mengurangi delay karena menunggu hasil uji lab, meningkatkan kredibilitas pengawas/owner dengan data digital yang presisi, dan mempermudah penyusunan dokumentasi akhir proyek.
- Keputusan: Jika volume pengujian Anda rutin (bahkan untuk proyek kecil-menengah), investasi dalam Schmidt hammer digital memiliki ROI yang sangat jelas dan cepat. Untuk perusahaan jasa pengujian, alat ini adalah diferensiator kompetitif yang langsung meningkatkan kapasitas, kecepatan, dan kredibilitas layanan.
Kesimpulan
Schmidt hammer digital merepresentasikan lompatan signifikan dalam praktik pengujian beton non-destruktif. Alat ini dengan cerdas menjembatani kesenjangan antara kebutuhan kecepatan lapangan dan tuntutan akurasi serta kepatuhan standar (ASTM C805 dan SNI). Dengan menghilangkan human error, menyediakan dokumentasi data yang robust, dan mempercepat proses secara dramatis, alat ini tidak hanya mengatasi rasa sakit operasional seperti uji beton lambat dan hasil tidak akurat, tetapi juga memberikan justifikasi finansial yang kuat melalui ROI yang menguntungkan.
Adopsinya adalah langkah strategis menuju pengelolaan kualitas beton yang lebih cerdas, andal, dan ekonomis. Ini adalah investasi bukan hanya pada sebuah alat, tetapi pada peningkatan kapabilitas tim, perlindungan terhadap risiko proyek, dan penguatan daya saing bisnis di industri konstruksi yang ketat.
Langkah Selanjutnya: Evaluasi proses dan biaya pengujian beton Anda saat ini. Identifikasi titik inefisiensi atau ketidakpastian. Kemudian, pertimbangkan untuk melakukan demonstrasi atau meminta penawaran dari penyedia alat terpercaya untuk menganalisis bagaimana Schmidt hammer digital dapat diintegrasikan ke dalam operasional Anda.
Sebagai mitra bagi para pelaku industri, CV. Java Multi Mandiri menyediakan peralatan ukur dan uji presisi, termasuk alat uji beton non-destruktif, untuk mendukung kebutuhan kontrol kualitas dan efisiensi operasional perusahaan. Kami berkomitmen menyediakan solusi instrumentasi yang andal untuk aplikasi komersial dan industri. Untuk mendiskusikan kebutuhan spesifik perusahaan Anda terkait alat uji beton, Anda dapat menghubungi tim kami melalui halaman konsultasi solusi bisnis.
Informasi dalam artikel ini untuk tujuan edukasi dan panduan umum. Untuk aplikasi proyek spesifik, selalu konsultasikan dengan standar terbaru (ASTM, SNI) dan profesional berlisensi. Hasil pengujian dengan rebound hammer tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk menerima atau menolak beton sesuai peringatan ASTM C805.
Rekomendasi Hardness Tester
-

Automatic Brinell Hardness Tester NOVOTEST TB-B-CM
Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Alat Uji Kekerasan NOVOTEST T-U2
Rp39.825.000,00Lihat produkRated 5 out of 5 based on 1 customer rating -

Alat Ukur Kekerasan NOVOTEST Rockwell Hardness Tester TS-R
Rp282.187.500,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Alat Penguji Kekerasan Digital NOVOTEST TB-SR-C
Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Automatic Hardness Tester Digital NOVOTEST TB-R
Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Brinell Test Blocks NOVOTEST HB
Rp8.812.500,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Alat Penguji Kekerasan Rockwell NOVOTEST TS-R-C
Rp220.312.500,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Alat Uji Kekerasan NOVOTEST TB-R-C
Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating
Referensi
- ASTM International. (2013). Standard Test Method for Rebound Number of Hardened Concrete (ASTM C805/C805M −13). ASTM International.
- Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2012). SNI ASTM C805:2012 Metode uji angka pantul beton keras (ASTM C 805-02, IDT). Badan Standardisasi Nasional Indonesia.
- ACI Committee 228. (2019). Report on Methods for Estimating In-Place Concrete Strength (ACI 228.1R-19). American Concrete Institute.




