Bagi para insinyur sipil, quality control engineer, dan kontraktor di Indonesia, memilih metode uji kekuatan beton yang tepat sering kali menjadi dilema tersendiri. Di satu sisi, hammer test beton menawarkan kecepatan dan kemudahan di lapangan. Di sisi lain, muncul keraguan: seberapa akurat sebenarnya hasil uji hammer beton tersebut? Apakah metode alternatif seperti core drill atau compression test memberikan hasil yang lebih dapat diandalkan? Metode manakah yang paling tepat untuk proyek Anda, baik dari segi akurasi, biaya, maupun waktu?
Artikel ini hadir sebagai panduan definitif yang tidak hanya membandingkan hammer test dengan metode uji kekuatan beton lainnya, tetapi juga menyediakan kerangka keputusan visual dan strategi mitigasi praktis untuk mengatasi keterbatasan setiap metode. Didukung oleh data penelitian asli dari jurnal teknik terindeks Indonesia, rujukan standar nasional (SNI) dan internasional (ASTM), serta studi kasus proyek nyata, kami akan membantu Anda membuat keputusan yang tepat, terpercaya, dan sesuai dengan kebutuhan proyek Anda.
Dalam artikel ini, kami akan mengulas secara mendalam hammer test beton, metode alternatif non-destruktif dan destruktif, perbandingan akurasi, biaya, dan waktu, serta panduan praktis untuk memilih metode yang paling sesuai.
- Memahami Metode Uji Hammer Beton (Schmidt Hammer)
- Metode Uji Kekuatan Beton Alternatif: Non-Destruktif dan Destruktif
- Perbandingan Akurasi, Biaya, Waktu, dan Aplikasi Ideal
- Bagaimana Memilih Metode Uji Kekuatan Beton yang Tepat?
- Kesimpulan
- Referensi dan Sumber Terpercaya
Memahami Metode Uji Hammer Beton (Schmidt Hammer)
Sebelum membandingkannya dengan metode lain, penting untuk memahami secara fundamental apa itu hammer test, bagaimana ia bekerja, serta apa saja kelebihan dan keterbatasannya.
Apa itu Hammer Test dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Hammer test, atau yang dikenal dengan Schmidt Hammer atau rebound hammer, adalah alat uji non-destruktif (NDT) yang paling umum digunakan untuk memperkirakan kekuatan tekan beton. Alat ini pertama kali diperkenalkan oleh Ernst Schmidt pada tahun 1948 dan kini telah menjadi standar global dalam pemeriksaan awal mutu beton.
Prinsip kerjanya sederhana: sebuah massa baja yang diaktifkan oleh pegas akan menumbuk permukaan beton dengan energi yang telah ditentukan. Jarak pantulan (rebound number) yang diukur kemudian dikonversikan menjadi perkiraan kuat tekan beton melalui kurva korelasi yang disediakan oleh pabrikan. Pengujian ini harus dilakukan sesuai dengan standar nasional Indonesia, yaitu SNI 03-4430-1997 tentang Metode Pengujian Hammer Test Beton [1], maupun standar internasional ASTM C805 [2].
Alat hammer test digital modern, seperti AMTAST HT-225W, memiliki rentang pengukuran 10-60 MPa dan dapat menampilkan hasil secara langsung dalam satuan MPa [3]. Namun, penting untuk diingat bahwa konversi dari nilai rebound ke kuat tekan memerlukan interpretasi yang cermat dan sebaiknya diverifikasi dengan metode lain.
Kelebihan dan Keterbatasan Hammer Test
Kelebihan:
- Non-destruktif: Tidak merusak struktur beton yang diuji.
- Cepat: Setiap titik pengujian hanya membutuhkan waktu hitungan detik.
- Portabel: Alat ringan dan mudah dibawa ke lokasi proyek.
- Ekonomis: Biaya per titik uji sangat rendah dibandingkan metode destruktif.
Keterbatasan:
Meskipun praktis, hammer test memiliki keterbatasan yang signifikan dan seringkali menjadi sumber keraguan utama bagi para praktisi. Sebagaimana dinyatakan dalam Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil (MKTS) UNDIP, merujuk pada SNI 03-4430-1997,
“hammer test bukan merupakan alternatif metode pengujian kuat tekan beton, tapi sebagai indikator untuk menilai mutu beton” [4].
Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil (MKTS) UNDIP, Vol. 22 No. 1, 2016
Ini adalah pernyataan kritis yang menjadi dasar pemahaman kita.
Keterbatasan utama hammer test meliputi:
- Hanya mengukur permukaan: Alat ini hanya mengukur kekerasan lapisan permukaan beton, bukan kekuatan bagian interiornya.
- Faktor permukaan berpengaruh besar: Kelembaban, suhu, kondisi permukaan (kasar, halus, terkarbonasi), dan adanya tulangan di dekat area uji dapat menyebabkan deviasi hasil yang signifikan.
- Tidak akurat untuk beton umur muda: Hasil uji pada beton berumur di bawah 28 hari (sebelum curing sempurna) cenderung tidak andal.
- Deviasi tinggi: Penelitian dalam Jurnal Konstruksia, Vol. 6 No. 2 menunjukkan bahwa pada area uji yang sama, mutu hammer test rata-rata adalah 28,84 MPa, sementara core drill mencatat 45,11 MPa [5]. Ini berarti korelasi hammer test terhadap core drill hanya sekitar 0,64, yang artinya hasil hammer test setara dengan 64% dari hasil core drill.
Untuk memberikan gambaran lebih jelas, berikut tabel faktor risiko yang memengaruhi akurasi hammer test, berdasarkan sintesis dari berbagai penelitian:
| Faktor Risiko | Dampak Potensial | Tingkat Risiko |
|---|---|---|
| Kelembaban permukaan | Penurunan nilai rebound (hasil lebih rendah) | Tinggi |
| Permukaan kasar/tidak rata | Fluktuasi nilai rebound tidak konsisten | Tinggi |
| Karbonasi permukaan | Peningkatan nilai rebound (hasil lebih tinggi) | Sedang |
| Keberadaan tulangan di dekat titik uji | Peningkatan nilai rebound (hasil lebih tinggi) | Tinggi |
| Kemiringan/posisi alat tidak tegak lurus | Deviasi signifikan pada hasil | Sedang |
| Kalibrasi alat tidak akurat | Kesalahan sistematis pada semua hasil | Tinggi |
Cara Meminimalkan Kesalahan Hasil Hammer Test
Meskipun memiliki keterbatasan, kesalahan hasil hammer test dapat diminimalkan dengan mengikuti protokol pengujian yang benar. Sebagaimana dirujuk dalam ASTM C805 dan SNI 03-4430-1997, berikut adalah checklist yang perlu diperhatikan:
- Kalibrasi alat: Pastikan alat telah dikalibrasi sebelum digunakan. Pegas harus disetel sesuai manual pabrikan.
- Persiapan permukaan: Bersihkan permukaan beton dari debu, kotoran, atau lapisan cat. Jika perlu, ratakan permukaan dengan batu asah.
- Jarak antar titik uji: Lakukan minimal 5-10 kali tembakan per grid dengan jarak antar titik minimal 15 cm. Jarak titik uji dari tepi beton harus minimal 20 mm dan dari tulangan minimal 30 mm.
- Sudut tembakan: Pastikan alat dipegang tegak lurus (90°) terhadap permukaan beton.
- Kondisi beton: Hindari pengujian pada beton yang basah, beku, atau baru saja dicetak. Hasil terbaik diperoleh pada beton kering dan berumur di atas 28 hari.
- Verifikasi dengan metode lain: Setelah mendapatkan hasil skrining dengan hammer test, lakukan verifikasi pada area kritis menggunakan metode yang lebih akurat seperti UPVT atau core drill.
Metode Uji Kekuatan Beton Alternatif: Non-Destruktif dan Destruktif
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif, ada beberapa metode alternatif yang dapat digunakan, masing-masing dengan prinsip, kelebihan, dan keterbatasannya sendiri.
Ultrasonic Pulse Velocity Test (UPVT)
UPVT adalah metode non-destruktif lain yang mengukur kecepatan rambat gelombang ultrasonik melalui beton. Prinsipnya: gelombang ultrasonik merambat lebih cepat melalui beton yang padat dan berkualitas baik, dan lebih lambat melalui beton yang retak, keropos, atau memiliki kualitas buruk. Standar yang digunakan adalah ASTM C597 [6] dan rujukan teknis ACI 228.1R [7]. Informasi lebih lanjut tentang prinsip UPVT dapat Anda temukan melalui Panduan Resmi UPV Test oleh Direktorat Bina Marga PU [8].
Kelebihan:
- Non-destruktif dan menjangkau volume beton (bukan hanya permukaan).
- Dapat mendeteksi cacat internal, retak, atau rongga di dalam beton.
- Memberikan gambaran tentang homogenitas beton di seluruh elemen struktur.
Keterbatasan:
- Biaya alat relatif lebih mahal dari hammer test.
- Membutuhkan keahlian khusus untuk interpretasi data.
- Membutuhkan akses ke dua sisi beton (transmission method) atau satu sisi (indirect method) dengan konfigurasi yang tepat.
Perbandingan dengan Hammer Test:
Penelitian dalam Jurnal Konstruksia menunjukkan bahwa pada irisan lokasi uji yang sama, mutu UPVT metode indirect adalah 26,92 MPa, hampir serupa dengan hammer test (28,84 MPa) [5]. Korelasi UPVT terhadap core drill adalah 0,6. Artinya, UPVT dan hammer test memiliki tingkat akurasi yang relatif sebanding dalam memperkirakan kekuatan beton, dan keduanya memerlukan verifikasi dengan metode destruktif untuk hasil yang lebih definitif.
Penetration Resistance Test (Windsor Probe)
Metode ini melibatkan penembakan sebuah probe logam (mirip anak panah) ke permukaan beton dengan energi yang terkontrol. Kedalaman penetrasi probe kemudian diukur dan dikorelasikan dengan kuat tekan beton. Standar yang digunakan adalah ASTM C803 [9].
Metode ini memberikan indikasi kekuatan permukaan beton dengan sedikit bekas tusukan, namun relatif jarang digunakan di Indonesia dibandingkan hammer test atau core drill.
Core Drill Test
Core drill adalah metode destruktif parsial yang mengambil sampel silinder beton (core) dari struktur yang sudah ada. Sampel ini kemudian diuji tekan di laboratorium untuk mendapatkan nilai kuat tekan yang akurat. Standar yang digunakan adalah ASTM C42 [10] dan SNI terkait.
Kelebihan:
- Sangat akurat karena mengukur langsung kekuatan beton bagian dalam.
- Dapat dilakukan pada struktur yang sudah berdiri (existing).
- Sampel yang diambil representatif terhadap kondisi beton di titik tersebut.
Keterbatasan:
- Merusak struktur (perlu diperbaiki setelah pengujian).
- Biaya lebih tinggi (termasuk biaya pengeboran, perbaikan lubang, dan uji laboratorium).
- Waktu lebih lama (butuh transportasi sampel dan pengujian laboratorium).
Data Perbandingan:
Data dari Jurnal Konstruksia secara tegas menunjukkan perbedaan hasil antara hammer test dan core drill [5]. Pada titik lokasi yang sama, core drill menghasilkan rata-rata 45,11 MPa, sementara hammer test hanya 28,84 MPa. Selisih ini sangat signifikan dan mengonfirmasi bahwa hammer test cenderung memberikan hasil yang lebih rendah, terutama pada beton dengan kekuatan tinggi.
Compression Test (Pressing Test / Concrete Cylinder Test)
Ini adalah “gold standard” dalam pengujian kuat tekan beton. Sampel beton berbentuk silinder (diameter 150 mm, tinggi 300 mm) atau kubus (150x150x150 mm) diuji dengan mesin tekan (Compression Testing Machine/CTM) hingga hancur. Standar yang digunakan adalah ASTM C39/C39M [11] dan SNI 7656-2012 [12].
Kelebihan:
- Akurasi tertinggi dan paling andal.
- Satu-satunya metode yang diakui secara definitif untuk sertifikasi mutu beton.
Keterbatasan:
- Hanya untuk beton segar: Sampel harus diambil saat pengecoran dan dirawat (curing) selama 28 hari. Tidak dapat digunakan untuk mengevaluasi beton pada struktur yang sudah ada.
- Destruktif: Sampel hancur setelah diuji.
- Waktu: Membutuhkan waktu 28 hari curing sebelum hasil diketahui.
Pernyataan Kritis:
Sebagaimana dikutip dari Jurnal MKTS UNDIP, hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai kuat tekan yang didapat menggunakan CTM dengan hammer test [4]. Selisih rata-rata nilai kuat tekan antara hammer test dan CTM pada beton normal adalah 161 kg/cm². Ini menguatkan bahwa hammer test tidak dapat menggantikan compression test untuk penentuan mutu beton secara definitif.
Perbandingan Akurasi, Biaya, Waktu, dan Aplikasi Ideal
Setelah memahami masing-masing metode, langkah selanjutnya adalah membandingkannya secara langsung untuk membantu Anda mengambil keputusan.
Tabel Perbandingan Multi-Dimensi
| Metode | Akurasi (Relatif terhadap CTM) | Biaya (Estimasi) | Waktu Pengujian | Destruktif/Tidak | Aplikasi Ideal |
|---|---|---|---|---|---|
| Hammer Test | Rendah (Korelasi ~0,64 terhadap Core Drill) [5] | Sangat Rendah | Hitungan detik per titik | Non-destruktif | Skrining awal, evaluasi cepat, homogenitas |
| UPVT | Rendah-Sedang (Korelasi ~0,6 terhadap Core Drill) [5] | Sedang | Menit per area uji | Non-destruktif | Deteksi cacat internal, evaluasi homogenitas |
| Core Drill | Tinggi (Mendekati CTM) | Tinggi | Jam hingga hari (termasuk lab) | Destruktif (minimal) | Struktur existing, verifikasi NDT, investigasi forensik |
| Compression Test | Gold Standard | Sedang-tinggi (tergantung sampel) | 28 hari (curing) | Destruktif | Sertifikasi mutu beton baru, proyek baru |
Catatan:
- Nilai korelasi di atas berasal dari Jurnal Konstruksia Vol. 6 No. 2 yang membandingkan hasil pada area uji yang sama [5]. Korelasi yang lebih rendah menunjukkan deviasi yang lebih besar.
- Biaya yang tertera adalah estimasi umum dan dapat sangat bervariasi tergantung lokasi proyek, jumlah sampel, akses, dan penyedia jasa.
Analisis Biaya-Manfaat Setiap Metode
Meskipun compression test adalah yang paling akurat, ia tidak selalu menjadi pilihan yang tepat. Misalnya, untuk mengevaluasi beton pada gedung tua yang akan direnovasi, compression test tidak dapat dilakukan karena sampel beton segar tidak tersedia. Dalam kasus ini, kombinasi hammer test untuk skrining cepat dan core drill untuk verifikasi di area kritis menjadi solusi yang paling efektif.
Nilai ROI (Return on Investment):
Investasi pada metode yang lebih akurat, seperti core drill, meskipun lebih mahal, dapat memberikan ROI yang sangat tinggi. Dengan hasil yang akurat, Anda dapat:
- Menghindari pembongkaran dan perbaikan struktur yang tidak perlu (jika beton ternyata lebih kuat dari perkiraan hammer test).
- Mencegah kegagalan struktur yang berpotensi menimbulkan kerugian jauh lebih besar (jika beton ternyata lebih lemah dari perkiraan hammer test).
- Memenuhi persyaratan regulasi dan standar proyek dengan lebih percaya diri.
Bagaimana Memilih Metode Uji Kekuatan Beton yang Tepat?
Memilih metode uji yang tepat bukanlah soal satu ukuran cocok untuk semua. Berikut adalah kerangka keputusan praktis yang dapat Anda gunakan.
Kerangka Keputusan (Decision Tree / Flowchart)
Ikuti tiga pertanyaan kunci berikut untuk mempersempit pilihan Anda:
- Apakah struktur tersebut baru atau sudah ada (existing)?
- Struktur Baru: Compression test adalah metode wajib untuk sertifikasi mutu. Anda dapat menggunakan hammer test untuk QC cepat di lapangan, tetapi hasilnya tidak boleh menggantikan hasil compression test.
- Struktur Existing: Anda tidak bisa menggunakan compression test. Langkah selanjutnya adalah ke pertanyaan ke-2.
- Apa prioritas utama Anda? Akurasi, biaya, atau kecepatan?
- Prioritas Akurasi: Pilih core drill. Metode ini memberikan hasil paling andal untuk struktur existing. Jika anggaran memungkinkan, lakukan di beberapa titik kritis.
- Prioritas Biaya & Kecepatan (Skrining Awal): Mulailah dengan kombinasi hammer test + UPVT. Ini akan memberikan gambaran umum tentang kualitas beton secara non-destruktif dengan biaya rendah.
- Bagaimana jika hasil skrining awal (hammer test + UPVT) meragukan?
- Jika hasilnya rendah atau tidak konsisten di area kritis, Anda harus melakukan verifikasi dengan core drill. Ini adalah protokol yang paling prudent dan disarankan oleh praktik QC terbaik. Sebagaimana ditunjukkan dalam Studi Komparasi Hammer Test vs Core Drill pada Bangunan Eksisting dari Kementerian PUPR [13], kombinasi multi-metode menghasilkan kurva korelasi yang valid untuk menentukan kuat tekan beton terpasang.
Informasi lebih lanjut mengenai metode estimasi kuat tekan beton in-place dapat dilihat pada FAQ ACI: Estimasi Kuat Tekan Beton In-Place Berbagai Metode.
Studi Kasus: Kombinasi Multi-Metode pada Proyek Nyata
Sebuah studi kasus dari Jurnal Permukiman, Vol. 17 No. 1, 2022 yang diterbitkan oleh Kementerian PUPR memberikan ilustrasi yang sangat baik [13]. Penelitian ini dilakukan pada bangunan beton bertulang 4 lantai eksisting yang dibangun pada tahun 1987.
Para peneliti melakukan pengujian dengan menggunakan 32 sampel hammer test dan 13 sampel core drill. Hasilnya, mereka menyusun kurva strength relationship (kurva korelasi) antara kedua metode tersebut. Analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata kuat tekan beton ekivalen terpasang adalah 12,21 MPa. Dengan metode statistika, nilai kuat tekan pada 10-persentil fractile diperoleh sebesar 5,37 MPa (Tolerance factor method) dan 8,87 MPa (Alternate method).
Studi kasus ini menegaskan bahwa:
- Hammer test saja tidak cukup untuk menentukan kuat tekan beton terpasang secara definitif.
- Diperlukan korelasi dengan core drill untuk mendapatkan kurva yang valid.
- Pendekatan multi-metode memberikan hasil yang lebih andal dan dapat dipertanggungjawabkan, terutama untuk struktur existing yang kritis.
Rekomendasi untuk Skenario Proyek Tertentu
Berdasarkan analisis di atas, berikut rekomendasi spesifik untuk berbagai skenario proyek:
- Proyek Rumah Tinggal (Anggaran Terbatas): Mulailah dengan hammer test untuk skrining umum. Jika ada area yang mencurigakan (misalnya, hasil hammer test sangat rendah), lakukan satu atau dua titik core drill untuk verifikasi. Ini adalah keseimbangan terbaik antara biaya dan akurasi.
- Gedung Bertingkat Baru: Wajib menggunakan compression test untuk setiap lantai. Gunakan hammer test sebagai alat QC tambahan untuk memantau konsistensi mutu beton segar di lapangan, tetapi ingat bahwa hasilnya hanya sebagai indikator.
- Jalan Raya dan Infrastruktur: Ikuti spesifikasi proyek. Biasanya, core drill adalah metode yang disyaratkan. Jika spesifikasi mengizinkan, UPVT dapat digunakan untuk pemeriksaan tambahan untuk mendeteksi delaminasi atau kerusakan internal.
- Renovasi Bangunan Tua: Gunakan kombinasi yang paling komprehensif: hammer test untuk skrining cepat di banyak titik, diverifikasi dengan core drill di area yang dianggap kritis (misalnya, kolom utama, balok induk). Ikuti protokol yang dicontohkan dalam studi kasus Jurnal Permukiman PUPR [13].
- Anggaran Sangat Ketat: Prioritaskan hammer test untuk mengidentifikasi area dengan mutu beton paling rendah. Jika area kritis teridentifikasi, lakukan satu titik core drill untuk mendapatkan gambaran realistis tentang kekuatan beton di area tersebut. Jika tidak ada indikasi masalah, gunakan data hammer test dengan hati-hati dan catat bahwa hasil tersebut perlu ditindaklanjuti jika ada keraguan di kemudian hari.
Kesimpulan
Pemilihan metode uji kekuatan beton yang tepat sangat bergantung pada konteks proyek Anda. Tidak ada satu metode pun yang sempurna untuk semua situasi. Hammer test beton adalah alat yang sangat berguna untuk skrining cepat, ekonomis, dan non-destruktif. Namun, keterbatasannya dalam hal akurasi dan hanya mengukur permukaan mengharuskan Anda untuk selalu melakukan verifikasi, terutama pada area kritis.
UPVT melengkapi hammer test sebagai metode NDT dengan memberikan gambaran tentang kondisi internal beton. Sementara itu, core drill dan compression test adalah pilihan utama ketika akurasi yang tinggi dan hasil yang definitif diperlukan.
Takeaway utama Anda:
- Pahami kelebihan dan keterbatasan masing-masing metode.
- Gunakan kerangka keputusan (decision tree) untuk memandu Anda.
- Terapkan pendekatan multi-metode untuk hasil yang paling andal.
- Ingatlah bahwa hammer test adalah indikator, bukan alternatif metode destruktif.
Rekomendasi Hammer Schmidt
-

Concrete Rebound Hammer NOVOTEST MSh-225
Rp15.562.500,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Concrete Rebound Hammer NOVOTEST MSh-75
Rp15.562.500,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Schmidt Hammer NOVOTEST SH
Rp19.200.000,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating -

Concrete Rebound Hammer NOVOTEST MSh-20
Rp15.562.500,00Lihat produkRated 4 out of 5 based on 1 customer rating
Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan informatif. Hasil pengujian lapangan dapat bervariasi. Konsultasikan dengan ahli struktur bersertifikat untuk pengambilan keputusan kritis pada proyek Anda.
Sebagai penyedia solusi pengukuran dan pengujian untuk kebutuhan bisnis dan industri, CV. Java Multi Mandiri adalah distributor dan supplier alat ukur dan uji terpercaya. Kami memahami pentingnya hasil pengujian yang akurat dan andal untuk keberhasilan proyek Anda. Untuk itu, kami menyediakan berbagai pilihan alat uji berkualitas, mulai dari Hammer Schmidt untuk skrining cepat hingga alat uji kekuatan beton lainnya yang sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan Anda. Tim teknis kami siap membantu Anda memilih solusi pengujian yang paling tepat dan efisien. Untuk konsultasi lebih lanjut mengenai solusi pengujian untuk proyek Anda, silakan diskusikan kebutuhan perusahaan dengan kami.
Referensi dan Sumber Terpercaya
- Badan Standardisasi Nasional. (1997). SNI 03-4430-1997: Metode Pengujian Hammer Test Beton. Jakarta: BSN.
- ASTM International. (2013). ASTM C805/C805M-13a: Standard Test Method for Rebound Number of Hardened Concrete. West Conshohocken, PA: ASTM International.
- AMTAST. (N.D.). AMTAST HT-225W Digital Concrete Rebound Hammer. Spesifikasi Produk.
- Dharmawan, W.I., Oktarina, D., & Safitri, M. (2016). Perbandingan Nilai Kuat Tekan Beton Menggunakan Hammer Test dan Compression Testing Machine terhadap Beton Pasca Bakar. Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil (MKTS), 22(1). Universitas Diponegoro. Retrieved from https://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/viewFile/12404/10242
- Ridho, F., & Khoeri, H. (2015). Perbandingan Mutu Beton Hasil UPVT Terhadap Mutu Beton Hammer & Core Drill. Jurnal Konstruksia, 6(2). Universitas Muhammadiyah Jakarta. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/499190-perbandingan-mutu-beton-hasil-upvt-metod-b7c7b5d8.pdf
- ASTM International. (2016). ASTM C597-16: Standard Test Method for Ultrasonic Pulse Velocity Through Concrete. West Conshohocken, PA: ASTM International.
- American Concrete Institute (ACI) Committee 228. (2019). 228.1R-19: Report on Methods for Estimating In-Place Concrete Strength. Farmington Hills, MI: ACI. Retrieved from https://www.concrete.org/Portals/0/Files/PDF/Previews/228.1R-19_preview.pdf
- Direktorat Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (N.D.). Kegunaan Gelombang Ultrasonik Dalam Bidang Teknik Sipil. Retrieved from https://binamarga.pu.go.id/index.php/article/kegunaan-gelombang-ultrasonik-dalam-bidang-teknik-sipil
- ASTM International. (2010). ASTM C803/C803M-03(2010): Standard Test Method for Penetration Resistance of Hardened Concrete. West Conshohocken, PA: ASTM International.
- ASTM International. (2013). ASTM C42/C42M-13: Standard Test Method for Obtaining and Testing Drilled Cores and Sawed Beams of Concrete. West Conshohocken, PA: ASTM International.
- ASTM International. (2018). ASTM C39/C39M-18: Standard Test Method for Compressive Strength of Cylindrical Concrete Specimens. West Conshohocken, PA: ASTM International.
- Badan Standardisasi Nasional. (2012). SNI 7656-2012: Tata Cara Pemilihan Campuran untuk Beton Normal, Beton Berat, dan Beton Massa. Jakarta: BSN.
- Tim Peneliti. (2022). Pemeriksaan Mutu Beton Terpasang Menggunakan Pengujian Nondestruktif (NDT) dan Destruktif, Studi Kasus: Bangunan Beton Bertulang 4 Lantai. Jurnal Permukiman, 17(1). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Retrieved from https://jurnalpermukiman.pu.go.id/index.php/JP/article/view/432



