Sebuah komponen tembaga yang krusial dalam mesin industri tiba-tiba retak dan gagal, padahal secara spesifikasi material tersebut seharusnya “kuat”. Skenario ini sering terjadi dan menimbulkan pertanyaan mendasar bagi banyak teknisi dan insinyur: mengapa material yang keras bisa begitu rapuh dan mudah patah? Jawabannya terletak pada pemahaman mendalam tentang sifat mekanik tembaga, khususnya hubungan terbalik antara kekerasan dan ketangguhan.
Ini bukan sekadar artikel teori. Ini adalah panduan visual dan berbasis data yang dirancang untuk membantu Anda menguasai perilaku tembaga di dunia nyata. Kami akan membongkar korelasi kritis antara kekerasan dan ketangguhan, memberikan Anda alat untuk mendiagnosis kegagalan material, dan menunjukkan cara memodifikasi sifat tembaga sesuai kebutuhan aplikasi Anda.
Dalam panduan komprehensif ini, Anda akan mempelajari:
- Sifat-sifat mekanik fundamental yang mendefinisikan tembaga.
- Hubungan terbalik yang krusial antara kekerasan dan ketangguhan.
- Cara mendiagnosis penyebab umum kegagalan pada komponen tembaga.
- Metode praktis untuk mengubah sifat tembaga melalui perlakuan panas.
- Standar pengujian industri untuk mengukur properti ini secara akurat.
Mari kita selami ilmu di balik salah satu logam paling penting di dunia industri.
- Dasar-Dasar Sifat Mekanik Tembaga: Lebih dari Sekadar Konduktivitas
- Korelasi Kritis: Mengapa Tembaga yang Lebih Keras Cenderung Lebih Getas?
- Panduan Diagnostik: Mengidentifikasi Penyebab Kegagalan Material Tembaga
- Cara Memodifikasi Sifat Tembaga: Panduan Praktis Perlakuan Panas
- Metode Pengujian Standar: Mengukur Apa yang Penting
- FAQ: Pertanyaan Umum tentang Sifat Mekanik Tembaga
- Kesimpulan: Menguasai Perilaku Tembaga
- Referensi dan Sumber
Dasar-Dasar Sifat Mekanik Tembaga: Lebih dari Sekadar Konduktivitas
Meskipun terkenal dengan konduktivitas listrik dan termalnya yang luar biasa, nilai sesungguhnya dari tembaga dalam aplikasi rekayasa sering kali ditentukan oleh sifat mekaniknya. Memahami tiga pilar utama—kekerasan, ketangguhan fraktur, dan daktilitas—adalah langkah pertama untuk memprediksi dan mengontrol performa tembaga.
Sifat Mekanik | Definisi Sederhana | Satuan Ukur Umum |
---|---|---|
Kekerasan (Hardness) | Kemampuan menahan goresan atau lekukan pada permukaan. | Vickers (HV), Brinell (HB), Rockwell (HR) |
Ketangguhan Fraktur (Fracture Toughness) | Kemampuan menahan perambatan retak hingga patah. | Joule per meter persegi (J/m²), MPa√m |
Daktilitas (Ductility) | Kemampuan untuk meregang atau berubah bentuk tanpa patah. | Persentase Elongasi (%) |
Apa Itu Kekerasan (Hardness)?
Kekerasan adalah ukuran resistansi material terhadap deformasi plastis lokal, seperti goresan atau lekukan saat ditekan oleh benda lain yang lebih keras. Dalam aplikasi praktis, kekerasan sering kali berkorelasi langsung dengan ketahanan aus. Komponen yang sering bergesekan, seperti kontak listrik atau bearing, membutuhkan tingkat kekerasan yang tinggi untuk memperpanjang umurnya. Metode pengujian umum untuk mengukur kekerasan tembaga meliputi pengujian Vickers dan Brinell, yang akan kita bahas lebih detail nanti.
Apa Itu Ketangguhan Fraktur (Fracture Toughness)?
Ketangguhan fraktur adalah properti yang sering disalahpahami. Ini bukanlah tentang seberapa “kuat” suatu material, melainkan tentang kemampuannya untuk menyerap energi dan menahan perambatan retak sebelum akhirnya patah. Bayangkan perbedaan antara kaca dan panel plastik. Kaca sangat keras (sulit digores) tetapi tidak tangguh; sekali retak, ia akan pecah dengan mudah. Sebaliknya, plastik kurang keras tetapi jauh lebih tangguh; ia dapat menahan benturan dan deformasi yang signifikan bahkan setelah tergores tanpa langsung pecah. Ketangguhan fraktur sangat penting untuk komponen yang mungkin mengalami beban kejut atau tekanan dinamis, seperti pipa atau bejana tekan.
Korelasi Kritis: Mengapa Tembaga yang Lebih Keras Cenderung Lebih Getas?
Inilah inti dari pemahaman sifat mekanik tembaga: kekerasan dan ketangguhan fraktur memiliki hubungan yang berbanding terbalik. Secara umum, ketika Anda melakukan suatu proses untuk membuat tembaga menjadi lebih keras, Anda secara bersamaan mengurangi ketangguhannya, membuatnya lebih rentan terhadap patah getas. Sebaliknya, proses yang membuat tembaga lebih lunak akan meningkatkan ketangguhannya.
Hubungan ini sangat penting dalam kontrol kualitas dan desain material. Para ahli di bidang pengujian material menekankan bahwa memahami korelasi ini memungkinkan produsen untuk menyeimbangkan sifat-sifat ini guna memenuhi tuntutan aplikasi spesifik.
Untuk memvisualisasikannya, bayangkan sebuah grafik plot di mana sumbu-Y adalah Ketangguhan Fraktur (K_Ic) dan sumbu-X adalah Kekerasan (HV).
- Tembaga Murni (Annealed): Akan berada di kuadran kiri atas, dengan kekerasan rendah tetapi ketangguhan sangat tinggi.
- Tembaga (Work-Hardened): Akan bergeser ke kanan bawah, menunjukkan peningkatan kekerasan yang signifikan tetapi dengan penurunan ketangguhan yang drastis.
- Paduan Tembaga-Berilium (Heat-Treated): Dapat menempati posisi di kanan atas, menunjukkan bagaimana paduan dan perlakuan panas canggih dapat mencapai kekerasan dan ketangguhan tinggi secara bersamaan, meskipun trade-off fundamental tetap ada.
Penjelasan di Tingkat Mikro: Peran Dislokasi dan Batas Butir
Mengapa trade-off ini ada? Jawabannya terletak pada struktur kristal logam di tingkat mikro. Bayangkan struktur kristal sebagai tumpukan atom yang rapi. Deformasi plastis (perubahan bentuk permanen) terjadi ketika lapisan-lapisan atom ini bergeser satu sama lain. Pergeseran ini difasilitasi oleh cacat garis yang disebut dislokasi.
- Pengerjaan Dingin (Work Hardening): Saat tembaga dipalu, ditarik, atau digulung pada suhu kamar, Anda menciptakan lebih banyak dislokasi. Dislokasi-dislokasi ini saling kusut dan menghalangi pergerakan satu sama lain. Semakin sulit dislokasi bergerak, semakin sulit material tersebut terdeformasi, sehingga kekerasannya meningkat.
- Efek pada Ketangguhan: Namun, tumpukan dislokasi yang padat ini juga bertindak sebagai titik konsentrasi tegangan. Ketika ada retakan mikro, energi tidak dapat diserap dengan mudah melalui pergerakan dislokasi. Sebaliknya, energi tersebut terkonsentrasi di ujung retakan, menyebabkannya merambat dengan cepat dan menyebabkan patah getas. Dengan kata lain, ketangguhannya menurun.
Proses perlakuan panas seperti annealing (anil) dapat membalikkan efek ini. Pemanasan memungkinkan atom-atom untuk mengatur ulang diri mereka (rekristalisasi), mengurangi kepadatan dislokasi secara drastis, sehingga material menjadi lebih lunak dan lebih tangguh.
Studi Kasus Aplikasi: Kapan Kekerasan Lebih Penting dari Ketangguhan?
Pemilihan antara kekerasan dan ketangguhan bergantung sepenuhnya pada aplikasi akhir. Tidak ada satu pun yang “lebih baik” secara universal. Konteks industri, seperti yang dijelaskan oleh produsen komponen, menunjukkan pentingnya pemilihan material yang tepat untuk fungsi spesifik.
- Kekerasan Diutamakan: Untuk kontak listrik, terminal, atau commutator bar, ketahanan aus adalah yang terpenting. Komponen-komponen ini mengalami gesekan mekanis berulang kali. Kekerasan tinggi memastikan mereka tidak cepat aus, mempertahankan koneksi listrik yang andal lebih lama. Sedikit kerapuhan dapat ditoleransi karena mereka biasanya tidak mengalami benturan keras.
- Ketangguhan Diutamakan: Untuk pipa tembaga, bejana tekan, atau komponen arsitektur, kemampuan menahan tekanan internal, benturan yang tidak disengaja, dan getaran adalah hal yang krusial. Ketangguhan tinggi memastikan bahwa jika terjadi kerusakan atau kelebihan beban, pipa akan membengkok atau berubah bentuk (deformasi plastis) daripada pecah tiba-tiba, mencegah kegagalan katastrofik.
Panduan Diagnostik: Mengidentifikasi Penyebab Kegagalan Material Tembaga
Ketika komponen tembaga gagal, memahami akar penyebabnya sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Kegagalan jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal, tetapi dengan memeriksa gejalanya, kita dapat mendiagnosis masalahnya. Analisis kegagalan material, seperti yang dipelajari di institusi akademis, adalah disiplin ilmu yang menggabungkan observasi visual dengan pemahaman metalurgi.
Analisis Retak: Manufaktur vs. Penggunaan
Retak pada komponen tembaga dapat berasal dari dua tahap utama: selama proses manufaktur atau selama masa pakainya.
- Penyebab: Stres Termal saat Manufaktur (Quenching Cracks)
Gejala: Retakan biasanya besar, sering kali dimulai dari permukaan dan dapat bercabang. Terjadi pada komponen yang baru saja melalui proses perlakuan panas.
Penjelasan: Selama pendinginan cepat (quenching), permukaan komponen mendingin dan menyusut lebih dulu daripada bagian dalamnya yang masih panas. Perbedaan laju pendinginan ini menciptakan tegangan internal yang sangat besar. Jika tegangan ini melebihi kekuatan tarik material, retakan akan terbentuk.
- Penyebab: Kelelahan (Fatigue Cracking) saat Penggunaan
Gejala: Retakan dimulai dari titik konsentrasi tegangan (seperti sudut tajam atau goresan) dan merambat secara perlahan. Permukaan patahan sering menunjukkan tanda “garis pantai” (beachmarks) yang khas.
Penjelasan: Ini terjadi pada komponen yang mengalami beban siklik (berulang), seperti getaran pada kabel atau perubahan tekanan pada pipa. Setiap siklus beban menyebabkan retakan mikro tumbuh sedikit demi sedikit hingga komponen akhirnya patah, sering kali pada tingkat tegangan yang jauh di bawah kekuatan tarik statis material.
- Penyebab: Retak Korosi Tegangan (Stress Corrosion Cracking)
Gejala: Jaringan retakan halus, sering kali intergranular (mengikuti batas butir), pada komponen yang berada di bawah tegangan tarik konstan dan terpapar lingkungan korosif tertentu (misalnya, senyawa amonia).
Penjelasan: Kombinasi dari tegangan mekanis dan serangan kimiawi secara sinergis mempercepat perambatan retak.
Misteri Tembaga Getas: Penyebab Metalurgi Sebenarnya
Pencarian online untuk “penyebab tembaga getas” terkadang dapat menghasilkan informasi yang salah dan membingungkan, seperti mengaitkannya dengan kondisi medis Penyakit Wilson. Penting untuk mengklarifikasi: Penyakit Wilson adalah kelainan genetik pada manusia dan sama sekali tidak relevan dengan sifat mekanik logam tembaga.
Kegetasan pada material tembaga disebabkan oleh faktor-faktor metalurgi yang spesifik:
- Hydrogen Embrittlement: Jika tembaga yang mengandung oksida (umum pada jenis tembaga non-deoxidized) dipanaskan dalam atmosfer yang kaya hidrogen (misalnya selama proses brazing atau pengelasan), hidrogen akan berdifusi ke dalam logam dan bereaksi dengan oksida tembaga (Cu₂O) untuk membentuk uap air (H₂O) di sepanjang batas butir. Tekanan dari uap air ini menciptakan retakan mikro internal, yang secara drastis mengurangi daktilitas dan ketangguhan.
- Penggetasan Akibat Impuritas: Elemen-elemen tertentu, bahkan dalam jumlah yang sangat kecil, dapat membuat tembaga menjadi getas. Bismut (Bi) dan Timbal (Pb) adalah contoh klasik. Elemen-elemen ini tidak larut dengan baik dalam tembaga dan cenderung mengendap di batas butir sebagai film tipis yang rapuh. Batas butir yang lemah ini menjadi jalur yang mudah bagi perambatan retak, menyebabkan patahan intergranular.
- Strain Hardening Berlebihan: Seperti yang telah dibahas, pengerjaan dingin yang ekstensif akan meningkatkan kekerasan tetapi secara signifikan mengurangi daktilitas dan ketangguhan, membuat material menjadi “getas” dalam artian praktis.
Korosi dan Oksidasi: Lebih dari Sekadar Patina Hijau
Kegagalan material tidak selalu bersifat mekanis. Degradasi kimiawi juga memainkan peran penting.
- Penyebab: Oksidasi Atmosfer (Patina)
Gejala: Lapisan berwarna hijau kebiruan yang terbentuk di permukaan tembaga setelah paparan jangka panjang terhadap udara dan kelembapan.
Penjelasan: Ini adalah proses alami di mana tembaga bereaksi dengan sulfur dioksida dan karbon dioksida di udara untuk membentuk senyawa seperti tembaga sulfat. Meskipun sering kali diinginkan secara estetis dan dapat bertindak sebagai lapisan pelindung, dalam beberapa konteks industri, pembentukan oksida ini dapat mengganggu konduktivitas atau kualitas produk.
- Penyebab: Korosi oleh Cairan Proses
Gejala: Penipisan material, pitting (lubang-lubang kecil), atau perubahan warna yang cepat.
Penjelasan: Cairan industri tertentu, seperti beberapa jenis oli pemotongan atau pelumas, dapat mengandung senyawa belerang atau aditif lain yang agresif terhadap tembaga dan paduannya, menyebabkan korosi yang dipercepat.
Cara Memodifikasi Sifat Tembaga: Panduan Praktis Perlakuan Panas
Kabar baiknya adalah sifat mekanik tembaga tidaklah statis. Melalui perlakuan panas yang terkontrol, kita dapat secara sengaja memodifikasi struktur mikronya untuk mencapai keseimbangan kekerasan dan ketangguhan yang diinginkan.
Perlakuan Panas | Tujuan Utama | Proses Kunci | Hasil pada Tembaga |
---|---|---|---|
Annealing (Anil) | Meningkatkan ketangguhan & daktilitas, melunakkan. | Pemanasan di atas suhu rekristalisasi, ditahan, lalu pendinginan lambat. | Kekerasan turun drastis, ketangguhan & daktilitas naik signifikan. |
Quenching (Keras Cepat) | Meningkatkan kekerasan (hanya untuk paduan tertentu). | Pemanasan hingga suhu larutan, lalu pendinginan sangat cepat (dicelup). | Kekerasan meningkat tajam, ketangguhan menurun. |
Tempering (Penemperan) | Mengurangi kegetasan setelah quenching. | Pemanasan kembali ke suhu yang lebih rendah setelah quenching, ditahan. | Kekerasan sedikit menurun, ketangguhan meningkat kembali. |
Annealing: Resep untuk Meningkatkan Ketangguhan dan Daktilitas
Annealing adalah proses yang paling umum digunakan untuk melunakkan tembaga yang telah dikeraskan melalui pengerjaan dingin. Proses ini memicu rekristalisasi, di mana butir-butir kristal baru yang bebas dari tegangan dan memiliki kepadatan dislokasi rendah terbentuk, mengembalikan daktilitas dan ketangguhan material. Data eksperimental dari penelitian akademis mengonfirmasi efektivitas proses ini.
(Catatan: Waktu penahanan bergantung pada ketebalan bagian)
Paduan Tembaga | Nama Umum | Suhu Annealing (°C) |
---|---|---|
C11000 (C110) | Electrolytic Tough Pitch (ETP) | 425 – 650 |
C17200 (C172) | Beryllium Copper | 790 – 805 (Solution Annealing) |
C26000 (C260) | Cartridge Brass (70/30) | 425 – 700 |
Quenching & Tempering: Mencapai Kekerasan Maksimal (dan Mengelolanya)
Sementara annealing bertujuan untuk melunakkan, quenching bertujuan untuk mengeraskan. Proses ini efektif terutama untuk paduan tembaga yang dapat dikeraskan dengan presipitasi, seperti tembaga berilium (BeCu). Pendinginan yang sangat cepat “mengunci” elemen paduan dalam larutan padat, menciptakan struktur yang sangat tegang dan keras.
Media pendingin memainkan peran krusial. Tingkat kekerasan tertinggi umumnya dicapai dengan larutan garam, diikuti oleh air, dan kemudian minyak, karena perbedaan kapasitas pendinginan mereka.
Namun, kekerasan ekstrem yang diperoleh dari quenching sering kali disertai dengan kegetasan yang tidak diinginkan. Di sinilah tempering berperan. Dengan memanaskan kembali komponen ke suhu yang lebih rendah, kita memungkinkan sedikit pengendapan terkontrol dari elemen paduan, yang mengurangi tegangan internal dan mengembalikan sebagian ketangguhan, meskipun dengan sedikit pengorbanan pada kekerasan puncak. Proses ini, seperti yang dijelaskan oleh sumber industri, adalah langkah penting untuk membuat komponen dapat digunakan.
Metode Pengujian Standar: Mengukur Apa yang Penting
Untuk memastikan kualitas dan memvalidasi sifat material, industri mengandalkan metode pengujian yang terstandarisasi. Mengutip dan memahami standar ini, seperti yang ditetapkan oleh ASTM International, adalah tanda keahlian teknis yang sesungguhnya. Produsen peralatan pengujian terkemuka seperti ZwickRoell menyediakan mesin yang dirancang untuk melakukan pengujian ini dengan presisi tinggi sesuai standar global.
Pengujian Kekerasan Vickers (ASTM E384): Presisi untuk Sampel Tipis
Pengujian Vickers adalah metode microhardness yang ideal untuk tembaga karena sifatnya yang relatif lunak dan sering digunakan dalam bentuk tipis seperti foil atau pelapisan.
- Proses: Sebuah indenter berlian berbentuk piramida ditekan ke permukaan sampel dengan beban yang sangat ringan dan terkontrol.
- Pengukuran: Setelah beban dihilangkan, panjang diagonal dari jejak lekukan diukur menggunakan mikroskop.
- Perhitungan: Angka Kekerasan Vickers (HV) dihitung menggunakan rumus:
HV = 1.854 * (F / d²)
Di mana F adalah gaya (beban) dalam kilogram-force dan d adalah rata-rata panjang diagonal dalam milimeter.
- Keunggulan: Sangat presisi dan dapat digunakan pada sampel yang sangat tipis atau kecil tanpa merusaknya. Standar ASTM E384 memberikan panduan lengkap untuk prosedur ini.
Nilai Kekerasan Vickers (HV) Tipikal untuk Tembaga:
Kondisi Tembaga | Kekerasan Vickers (HV) Tipikal |
---|---|
Murni, Fully Annealed | 35 – 45 |
Murni, Hard-Rolled | 100 – 120 |
Paduan Tembaga-Berilium (Heat-Treated) | 365 – 420 |
Pengujian Impak Charpy (ASTM E23): Mengukur Ketangguhan terhadap Benturan
Tes Charpy mengukur energi yang diserap oleh material selama patah akibat benturan, yang merupakan indikator langsung dari ketangguhannya.
- Proses: Sebuah pendulum berat diayunkan dari ketinggian tertentu untuk memukul dan mematahkan spesimen uji standar.
- Spesimen: Spesimen berbentuk balok kecil (biasanya 55x10x10 mm) dengan takik berbentuk V di tengahnya (V-notch sedalam 2 mm) untuk menginisiasi retakan.
- Pengukuran: Energi yang diserap dihitung dari perbedaan antara ketinggian awal pendulum dan ketinggian yang dicapainya setelah mematahkan spesimen. Energi yang lebih tinggi berarti material lebih tangguh.
Pengujian Pertumbuhan Retak Lelah (ASTM E647): Memprediksi Umur Komponen
Ini adalah pengujian yang lebih canggih untuk aplikasi kritis di mana kelelahan material menjadi perhatian utama. Tujuannya adalah untuk mengukur seberapa cepat retakan yang ada akan tumbuh di bawah beban siklik.
- Proses: Spesimen dengan retakan awal yang dibuat secara presisi dikenai beban siklik yang terkontrol.
- Pengukuran: Pertumbuhan panjang retak (da) diukur per siklus beban (dN).
- Analisis: Hasilnya diplot pada kurva yang dikenal sebagai Paris Law (da/dN vs. ΔK), di mana ΔK adalah rentang faktor intensitas tegangan. Kurva ini memungkinkan para insinyur untuk memprediksi umur pakai suatu komponen sebelum kegagalan terjadi. Pengujian ini, yang dijelaskan secara rinci oleh sumber otoritatif seperti ZwickRoell [9], sangat penting untuk desain komponen kedirgantaraan dan medis.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Sifat Mekanik Tembaga
Apakah tembaga yang lebih keras selalu lebih baik?
Tidak selalu. Ada trade-off fundamental. Kekerasan tinggi sangat baik untuk ketahanan aus (misalnya pada kontak listrik), tetapi secara signifikan mengurangi ketangguhan, membuatnya lebih rentan patah akibat benturan. Pilihan yang tepat selalu bergantung pada tuntutan spesifik dari aplikasi tersebut.
Bagaimana cara termudah untuk membuat tembaga lebih tangguh?
Cara paling umum dan efektif adalah melalui proses perlakuan panas yang disebut annealing (anil). Proses ini melibatkan pemanasan tembaga ke suhu tertentu dan mendinginkannya secara terkontrol. Ini akan melunakkan material, mengurangi kekerasannya, tetapi secara dramatis meningkatkan daktilitas dan ketangguhannya.
Tes apa yang harus saya gunakan untuk mengukur kekerasan foil tembaga tipis?
Pengujian microhardness seperti Vickers (sesuai standar ASTM E384) adalah yang paling ideal. Metode ini menggunakan beban yang sangat ringan dan indenter kecil, yang memungkinkan pengukuran yang akurat pada sampel yang sangat tipis atau kecil tanpa menembus atau merusak spesimen.
Kesimpulan: Menguasai Perilaku Tembaga
Memahami sifat mekanik tembaga jauh melampaui menghafal angka-angka dari buku teks. Ini tentang memahami tarian dinamis antara sifat-sifat yang saling bertentangan. Poin-poin kunci yang harus diingat adalah:
- Hubungan Terbalik yang Fundamental: Kekerasan dan ketangguhan fraktur pada tembaga memiliki hubungan terbalik. Meningkatkan yang satu hampir selalu berarti mengorbankan yang lain.
- Kunci Diagnostik dan Desain: Memahami hubungan ini adalah kunci untuk memilih material yang tepat untuk suatu pekerjaan dan untuk mendiagnosis secara akurat mengapa sebuah komponen gagal dalam layanan.
- Sifat yang Dapat Dimodifikasi: Sifat-sifat ini tidak statis. Melalui pemahaman tentang pengerjaan dingin dan perlakuan panas seperti annealing dan quenching, Anda dapat secara sengaja memanipulasi struktur mikro tembaga untuk mengoptimalkan kinerjanya.
Dengan pengetahuan yang diuraikan dalam panduan ini, Anda sekarang diberdayakan untuk beralih dari sekadar pengguna tembaga menjadi seseorang yang dapat benar-benar mengontrol, memprediksi, dan mengoptimalkan perilakunya untuk aplikasi yang paling menuntut sekalipun.
Jika Anda memiliki proyek yang memerlukan pemahaman mendalam tentang material tembaga atau membutuhkan peralatan pengujian yang andal untuk memverifikasi sifat mekanik komponen Anda, CV. Java Multi Mandiri siap membantu. Dengan pengalaman dalam menyediakan alat uji material berkualitas, kami dapat membantu Anda memenuhi spesifikasi yang paling ketat. Jangan ragu untuk hubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut mengenai kebutuhan peralatan Anda.
Rekomendasi Alat Hardness Tester
Disclaimer: Artikel ini membahas proses metalurgi termasuk perlakuan panas yang melibatkan suhu ekstrem. Semua prosedur harus dilakukan oleh personel terlatih dengan peralatan keselamatan yang memadai. Informasi yang diberikan bersifat edukatif dan tidak menggantikan standar teknik profesional.
Referensi dan Sumber
- Novotest.id. (N.D.). Korelasi Antara Kekerasan dan Ketangguhan Fraktur pada Tembaga. Novotest.id.
- id.baogangsteelpipe.com. (N.D.). Cracking and fracture of copper ac tubing.
- Universitas Indonesia. (N.D.). Analisis Kegagalan Material. lib.ui.ac.id.
- id.top-heaterchina.com. (N.D.). Characteristics Of Quenching Cracks In Copper.
- Wikipedia. (N.D.). Tembaga. ms.wikipedia.org.
- www.hai-lu-oil.com. (N.D.). Material Brass.
- Politeknik Negeri Lhokseumawe. (N.D.). Analisa Perlakuan Panas Terhadap Bahan Logam Tembaga. e-jurnal.pnl.ac.id.
- id.hlc-metalparts.com. (N.D.). What is heat treatment?.
- ZwickRoell. (N.D.). ASTM E647 Fatigue Crack Growth da/dN, Threshold Value ΔKth. ZwickRoell.
- Alatuji.com. (N.D.). Mengenal Metode Vickers Sebagai Pengujian Keras. Alatuji.com.