Panduan Memilih Alat Ukur Ketebalan Ultrasonik untuk Bulk Material Handling

Teknisi melakukan pengukuran ketebalan dinding pipa baja besar menggunakan alat ukur ketebalan ultrasonik portabel di fasilitas bulk material handling industri.

Bayangkan skenario ini: sebuah pabrik semen di Jawa Timur harus menghentikan seluruh lini produksi secara mendadak karena pipa pneumatic conveying yang mengangkut material curah tiba-tiba bocor. Kerugian akibat shutdown tidak terjadwal ini bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per hari, belum termasuk biaya perbaikan darurat dan risiko keselamatan kerja. Kejadian seperti ini seringkali berawal dari keausan dinding pipa atau korosi tangki yang tidak terdeteksi secara dini. Di sinilah alat ukur ketebalan ultrasonik (ultrasonic thickness gauge) portabel menjadi instrumen krusial untuk inspeksi lapangan non-destruktif.

Artikel ini adalah panduan strategis komprehensif yang secara eksklusif menghubungkan spesifikasi teknis ultrasonic thickness gauge portabel dengan tantangan nyata di lanskap industri bulk material handling Indonesia. Bukan sekadar daftar harga atau spesifikasi, panduan ini akan mengupas tuntas dasar teknologi ultrasonik, kriteria pemilihan alat yang tepat, perbandingan produk dan analisis biaya, hingga implementasi program inspeksi yang efektif. Tujuannya: membantu para reliability engineer, maintenance manager, dan QC inspector dalam memilih solusi yang tepat untuk mencegah kegagalan aset, memperpanjang umur operasional, dan menghemat biaya shutdown.

  1. Mengapa Inspeksi Ketebalan Ultrasonik Menjadi Kebutuhan Kritis di Industri Bulk Material Handling
    1. Dampak Keausan pada Pipa Pneumatic Conveying dan Tangki Penyimpanan
  2. Memahami Dasar Teknologi Ultrasonik untuk Pengukuran Ketebalan
    1. Mengenal Mode Echo-Echo dan B-Scan
  3. Panduan Memilih Ultrasonic Thickness Gauge Portabel yang Tepat
    1. Fitur Krusial untuk Inspeksi Lapangan: Portabilitas, Baterai, dan Daya Tahan
    2. Memilih Probe Berdasarkan Material dan Ketebalan Dinding
    3. Mode Pengukuran: Kapan Menggunakan Echo-Echo dan B-Scan
    4. Mempertimbangkan Lingkungan Operasi: IP Rating dan Ketahanan terhadap Debu & Air
  4. Perbandingan Produk dan Analisis Total Biaya Kepemilikan (TCO)
    1. Ketersediaan dan Dukungan Purna Jual di Indonesia
  5. Mengatasi Keterbatasan Inspeksi Manual dengan Teknologi Ultrasonik Digital
    1. Digitalisasi Data Inspeksi untuk Predictive Maintenance
  6. Implementasi Program Inspeksi: Kalibrasi, Prosedur, dan Dokumentasi
    1. Panduan Step-by-Step Kalibrasi dengan NOVOTEST UT-1M
  7. Kesimpulan
  8. Referensi dan Sumber Terpercaya

Mengapa Inspeksi Ketebalan Ultrasonik Menjadi Kebutuhan Kritis di Industri Bulk Material Handling

Industri bulk material handling—mencakup pertambangan batubara, pabrik semen, kelapa sawit, dan petrokimia—berhadapan langsung dengan material curah yang memiliki karakteristik abrasif dan korosif. Material seperti batubara, pasir silika, bijih mineral, dan semen, ketika diangkut melalui sistem pneumatic conveying atau mechanical conveying dalam volume besar dan kecepatan tinggi, bertindak seperti amplas yang secara terus-menerus mengikis dinding bagian dalam pipa dan tangki [4]. Tingkat abrasivitas yang tinggi ini mempercepat proses penipisan dinding (thinning) yang jika tidak terdeteksi dapat berujung pada kegagalan struktural.

Konsekuensi dari kegagalan pipa atau tangki akibat keausan sangatlah serius. Selain shutdown produksi yang mahal, kebocoran material curah dapat menyebabkan polusi lingkungan, membahayakan keselamatan pekerja, dan memicu biaya perbaikan atau penggantian yang tinggi. Oleh karena itu, inspeksi ketebalan secara berkala dengan metode non-destruktif (NDT) bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk program preventive maintenance.

Dampak Keausan pada Pipa Pneumatic Conveying dan Tangki Penyimpanan

Titik kritis keausan pada sistem conveying umumnya terjadi di area pipe bends (belokan pipa) dan sambungan turbulen. Pada bagian ini, material curah membentur dinding pipa dengan kecepatan tinggi, menyebabkan erosi yang jauh lebih cepat dibandingkan bagian straight section lurus. Penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi SINCE 2019 mengungkapkan keterbatasan metode inspeksi manual: teknik manual ultrasonic thickness gauging dengan grid scanning hanya mampu mendeteksi 25% dari total defek yang ada, serta membutuhkan waktu 3 jam untuk inspeksi [3]. Sebaliknya, metode yang lebih canggih dengan kemampuan pemetaan korosi seperti PAUT (Phased Array Ultrasonic Testing) mampu mendeteksi 75% defek dalam waktu hanya 1 jam. Data ini menegaskan bahwa mengandalkan inspeksi manual konvensional pada titik-titik kritis seperti pipe bends sangat berisiko tinggi.

Memahami Dasar Teknologi Ultrasonik untuk Pengukuran Ketebalan

Untuk memilih alat yang tepat, pemahaman mendasar tentang prinsip kerja ultrasonic thickness gauge sangatlah penting. Alat ini bekerja berdasarkan prinsip pulse-echo, yaitu mengirimkan gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasonik) ke dalam material. Gelombang tersebut akan merambat hingga mencapai permukaan belakang (back wall) material, lalu dipantulkan kembali ke probe [2]. Waktu tempuh gelombang (t) dari pengiriman hingga penerimaan echo diukur secara presisi. Dengan mengetahui kecepatan suara (V) pada material tertentu, ketebalan (T) dapat dihitung menggunakan rumus sederhana: T = V × t / 2.

Standar internasional ASTM E797/E797M-21 “Standard Practice for Measuring Thickness by Manual Ultrasonic Pulse-Echo Contact Method” menjadi acuan utama dalam prosedur pengukuran ini [1]. Standar ini mengatur persiapan permukaan, kalibrasi, pemilihan probe, dan teknik pengukuran untuk memastikan akurasi dan konsistensi hasil. Sebagai contoh, untuk material dengan ketebalan kurang dari 0,6 mm, ASTM E797 merekomendasikan penggunaan probe delay line dengan frekuensi tinggi 10 MHz atau lebih untuk mendapatkan resolusi yang memadai.

Mengenal Mode Echo-Echo dan B-Scan

Dua mode pengukuran yang sangat relevan untuk inspeksi lapangan di industri bulk material handling adalah mode Echo-Echo dan B-Scan.

Mode Echo-Echo memungkinkan pengukuran ketebalan dilakukan melalui lapisan coating atau cat pada permukaan material tanpa perlu mengelupasnya. Ini adalah penghemat waktu dan tenaga kerja yang signifikan di lapangan. Tom Nelligan, aplikator NDT veteran dari Evident Scientific, menjelaskan bahwa corrosion gauge (alat ukur ketebalan yang dirancang untuk inspeksi korosi) menggunakan teknik pemrosesan sinyal yang dioptimalkan untuk mendeteksi ketebalan minimum pada permukaan yang korosif, dan secara khusus menggunakan transducer dual element untuk tujuan ini [2].

Sementara itu, mode B-Scan menyediakan visualisasi penampang melintang (cross-sectional profile) dari dinding material secara real-time. Fitur ini sangat berharga untuk memetakan profil korosi internal, mendeteksi area thinning (penipisan) atau thickening (penebalan) yang tidak merata, serta mengidentifikasi pitting corrosion (korosi berlubang) yang mungkin terlewatkan oleh pengukuran titik tunggal.

Panduan Memilih Ultrasonic Thickness Gauge Portabel yang Tepat

Memilih ultrasonic thickness gauge yang tepat untuk aplikasi bulk material handling memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap spesifikasi teknis dan kondisi lapangan. Berikut adalah kerangka pemilihan yang komprehensif:

FiturNOVOTEST UT-1M (Value-for-Money)Evident 39DL PLUS (Premium Global)Baker Hughes DMS Go+ (Premium Modular)
Rentang Ukur (Baja)0,45 – 1000 mm (hingga 1500 mm dengan probe tertentu)Tergantung probe, umumnya 0,08 – 635 mmTergantung konfigurasi, dapat di-upgrade
Akurasi±(0,01T+0,05) mm±0,001 mm (high precision mode)±0,001 mm (high precision mode)
Resolusi0,01 mm0,001 mm0,001 mm
Berat0,2 kg (≈200 gram)~0,5 kg (termasuk baterai)~0,8 kg (termasuk baterai)
Mode UtamaPulse-Echo, Echo-Echo, B-ScanPulse-Echo, Echo-Echo (TT/TE), B-Scan, C-Scan (software)Pulse-Echo, Echo-Echo, B-Scan, Corrosion Mapping
Penyimpanan Data256 hasil (dapat ditransfer ke PC/Android via NOVOTEST Lab)Nirkabel (Wi-Fi, Bluetooth), penyimpanan besar, cloudMicroSD, USB, transfer data via PC
Ketahanan LingkunganTersedia varian IP (UT-1M-IP) tahan debu & airCasing kokoh, standar IP tertentuCasing kokoh, standar IP tertentu
Estimasi Harga (Global)~AED 2,900 (~Rp 11-12 juta)>$6,000 (belum termasuk probe)>$7,000 (tergantung modul)
Ketersediaan di IndonesiaMelalui distributor (CV. Java Multi Mandiri)Distributor resmi Evident/OlympusDistributor resmi Baker Hughes
Sumber: Data perbandingan dari riset pasar global dan spesifikasi produk per 2025.

Tabel di atas memberikan gambaran bahwa setiap produk memiliki segmen pasar dan keunggulannya masing-masing. NOVOTEST UT-1M, misalnya, menawarkan keseimbangan yang sangat baik antara fitur canggih (B-Scan, mode Echo-Echo) dengan portabilitas ekstrem (hanya 0,2 kg) dan harga yang lebih terjangkau, menjadikannya pilihan value-for-money yang kuat untuk tim inspeksi di lapangan.

Fitur Krusial untuk Inspeksi Lapangan: Portabilitas, Baterai, dan Daya Tahan

Dalam inspeksi lapangan, seorang inspector seringkali harus membawa alat ke area yang sulit dijangkau, seperti tangga tangki, jembatan conveyor, atau pipa yang melintang tinggi. Oleh karena itu, portabilitas menjadi faktor utama. Berat alat idealnya tidak lebih dari 0,5 kg untuk mengurangi kelelahan operator selama jam kerja yang panjang. NOVOTEST UT-1M dengan bobot hanya 0,2 kg memberikan keunggulan mobilitas yang signifikan. Selain itu, daya tahan baterai yang lama (menggunakan 2 baterai AA standar) memastikan alat siap digunakan sepanjang shift kerja tanpa perlu khawatir kehabisan daya.

Memilih Probe Berdasarkan Material dan Ketebalan Dinding

Pemilihan probe (transducer) sama pentingnya dengan pemilihan alat utama. Probe hadir dalam berbagai frekuensi, dan pemilihan frekuensi yang tepat sangat mempengaruhi akurasi dan jangkauan pengukuran. Berikut adalah panduan umum berdasarkan rekomendasi ASTM E797 [1]:

  • Frekuensi Tinggi (≥10 MHz): Memberikan resolusi tertinggi dan ideal untuk mengukur material tipis (contoh: pipa baja tipis dengan ketebalan di bawah 5 mm). Namun, daya tembusnya rendah pada material yang kasar atau tebal.
  • Frekuensi Menengah (5 MHz): Pilihan serbaguna yang paling umum digunakan untuk aplikasi industri umum, termasuk inspeksi pipa baja dengan ketebalan sedang (5-50 mm).
  • Frekuensi Rendah (1,25 MHz – 2,5 MHz): Memberikan daya tembus yang tinggi sehingga ideal untuk material tebal (di atas 50 mm), material dengan struktur butir kasar (seperti besi tuang atau stainless steel austenitik), atau permukaan yang tidak rata.

Untuk inspeksi pada permukaan yang korosif, kasar, atau berskala, penggunaan transducer dual element sangat direkomendasikan [2]. Probe jenis ini memiliki kristal pemancar dan penerima yang terpisah, yang dioptimalkan untuk mendeteksi ketebalan minimum pada permukaan yang aus.

Mode Pengukuran: Kapan Menggunakan Echo-Echo dan B-Scan

Kedua mode ini merupakan senjata utama dalam inspeksi korosi modern. Gunakan mode Echo-Echo ketika Anda perlu melakukan pengukuran cepat pada pipa atau tangki yang memiliki lapisan cat atau coating yang tebal (maksimal sekitar 1 mm). Mode ini secara otomatis mengabaikan echo dari permukaan coating dan hanya mengukur waktu tempuh antara echo dari permukaan depan material dan echo dari dinding belakang, sehingga memberikan hasil ketebalan material yang akurat tanpa perlu mengelupas cat.

Gunakan mode B-Scan ketika Anda mencurigai adanya korosi yang tidak merata, pitting corrosion, atau area thinning yang terlokalisasi. B-Scan memberikan gambar penampang dinding material secara real-time saat probe digerakkan di sepanjang permukaan. Penelitian yang dirujuk sebelumnya menunjukkan bahwa visualisasi ini secara drastis meningkatkan probabilitas deteksi defek dari 25% (dengan grid scanning manual) menjadi 75% (dengan teknik pemetaan/korosi mapping seperti B-Scan) [3].

Mempertimbangkan Lingkungan Operasi: IP Rating dan Ketahanan terhadap Debu & Air

Lingkungan kerja di industri bulk material handling seringkali keras dan tidak bersahabat. Debu batubara di pertambangan, debu semen di pabrik, kelembaban tinggi di area pengolahan kelapa sawit, dan paparan air hujan di dermaga adalah tantangan sehari-hari. Oleh karena itu, memilih alat dengan sertifikasi Ingress Protection (IP) rating yang memadai sangatlah krusial.

  • IP54: Perlindungan terhadap debu dalam jumlah terbatas dan percikan air. Cukup untuk lingkungan kerja umum yang tidak terlalu ekstrim.
  • IP65/IP66: Perlindungan penuh terhadap debu dan semburan air bertekanan rendah. Sangat disarankan untuk lingkungan berdebu dan lembab.
  • IP67: Perlindungan penuh terhadap debu dan perendaman dalam air hingga kedalaman 1 meter. Ideal untuk kondisi lapangan yang paling ekstrim, termasuk saat hujan deras.

NOVOTEST UT-1M tersedia dalam varian IP (UT-1M-IP) yang menawarkan ketahanan terhadap debu dan air, memastikan alat tetap berfungsi andal di lingkungan ekstrim tanpa khawatir kerusakan akibat kontaminasi.

Mengatasi Keterbatasan Inspeksi Manual dengan Teknologi Ultrasonik Digital

Inspeksi ketebalan manual konvensional—yang melibatkan pengukuran titik demi titik, pencatatan di kertas, dan analisis manual—memiliki banyak keterbatasan. Prosedur 7 langkah manual rawan terhadap kesalahan manusia (human error), terutama ketika harus mengukur ratusan titik pada area yang luas. Inspeksi manual juga sangat bergantung pada keahlian dan konsistensi operator, sehingga hasil pengukuran antar inspector bisa berbeda. Lebih jauh lagi, data inspeksi manual sulit didokumentasikan, dilacak trennya dari waktu ke waktu, dan diintegrasikan ke dalam sistem manajemen perawatan.

Teknologi ultrasonik digital modern mengatasi semua keterbatasan ini. Seperti yang telah dibuktikan oleh data penelitian, metode manual grid scanning hanya mendeteksi 25% defek dan memakan waktu 3 jam, sementara metode digital dengan pemetaan korosi (PAUT/B-Scan) mendeteksi 75% defek hanya dalam 1 jam [3]. Alat seperti NOVOTEST UT-1M mampu menyimpan hingga 256 hasil pengukuran secara internal. Data ini kemudian dapat ditransfer ke PC atau smartphone Android melalui aplikasi NOVOTEST Lab untuk analisis lebih lanjut, pembuatan laporan, dan dokumentasi digital [6].

Digitalisasi Data Inspeksi untuk Predictive Maintenance

Puncak dari transformasi digital dalam inspeksi adalah kemampuan untuk mengintegrasikan data hasil pengukuran ke dalam Computerized Maintenance Management System (CMMS) atau platform predictive maintenance. Dengan data digital yang terkumpul dari waktu ke waktu, seorang reliability engineer dapat:

  • Menganalisis Laju Thinning (Corrosion Rate): Memantau seberapa cepat dinding pipa atau tangki menipis pada titik-titik kritis.
  • Memprediksi Sisa Umur Pakai (Remaining Life): Menghitung perkiraan waktu kapan ketebalan dinding akan mencapai batas minimum yang aman, sehingga penggantian atau perbaikan dapat dijadwalkan secara proaktif.
  • Merencanakan Perbaikan Sebelum Kegagalan: Mengubah strategi dari reactive maintenance (memperbaiki setelah bocor) menjadi predictive maintenance (memperbaiki sebelum bocor), yang secara drastis mengurangi downtime dan biaya.

Aplikasi NOVOTEST Lab yang dapat diinstal di smartphone Android menjadi contoh konkret bagaimana digitalisasi data dapat dilakukan secara mudah dan efisien langsung di lapangan [6].

Implementasi Program Inspeksi: Kalibrasi, Prosedur, dan Dokumentasi

Keandalan hasil inspeksi sepenuhnya bergantung pada implementasi program inspeksi yang ketat dan sesuai standar. Tanpa kalibrasi yang benar dan prosedur yang baku, data yang dihasilkan bisa menyesatkan dan berbahaya.

Kalibrasi Sesuai Standar: Prosedur kalibrasi harus mengacu pada ASTM E797/E797M-21. Langkah-langkah utamanya meliputi:

  1. Persiapan Blok Kalibrasi: Gunakan blok kalibrasi dengan kecepatan suara dan ketebalan yang diketahui (biasanya dua titik: satu tipis dan satu tebal).
  2. Atur Kecepatan Suara Material: Setel kecepatan suara (velocity) pada alat sesuai dengan material yang akan diukur (misalnya, 5920 m/s untuk baja karbon).
  3. Lakukan Zero Calibration (Koreksi Nol): Lakukan pengukuran pada blok kalibrasi tipis untuk mengkompensasi waktu tunda pada probe dan sirkuit elektronik.
  4. Verifikasi Akurasi: Lakukan pengukuran verifikasi pada blok kalibrasi tebal dan tipis untuk memastikan akurasi berada dalam toleransi (misalnya, ±0,1 mm).

Prosedur Pengukuran: Pastikan permukaan material yang akan diukur bersih dari kotoran, minyak, atau karak yang longgar. Gunakan couplant (gel kopling) yang sesuai untuk mentransmisikan gelombang suara. Lakukan pengukuran pada titik-titik yang telah ditentukan dalam peta inspeksi (inspection map), dengan penekanan khusus pada area-area kritis seperti sambungan las, pipe bends, dan area yang terindikasi korosi secara visual.

Sertifikasi Operator: ASTM E797 merujuk pada standar kualifikasi personel NDT seperti ISO 9712 dan ASNT SNT-TC-1A [1]. Inspektor yang melakukan pengukuran dan interpretasi data sebaiknya memiliki sertifikasi NDT Level I atau Level II yang valid. Ini menjamin bahwa inspeksi dilakukan oleh tenaga yang kompeten.

Panduan Step-by-Step Kalibrasi dengan NOVOTEST UT-1M

Berikut adalah panduan singkat kalibrasi NOVOTEST UT-1M yang sesuai dengan prinsip ASTM E797, berdasarkan instruksi manual pabrikan [6]:

  1. Persiapan: Nyalakan alat, pastikan baterai cukup. Siapkan blok kalibrasi baja (contoh: ketebalan 5 mm dan 25 mm). Oleskan couplant pada permukaan blok.
  2. Atur Kecepatan Suara: Tekan tombol “VEL” pada UT-1M, masukkan kecepatan suara untuk baja (5920 m/s) menggunakan tombol navigasi.
  3. Zero Calibration: Tempelkan probe pada blok kalibrasi tipis (5 mm). Pastikan gema (echo) stabil. Tekan dan tahan tombol “ZERO” hingga nilai ketebalan pada layar sesuai dengan nilai blok.
  4. Verifikasi pada Blok Tebal: Pindahkan probe ke blok kalibrasi tebal (25 mm). Baca nilai ketebalan pada layar. Jika selisihnya dalam toleransi (misal ±0,1 mm), kalibrasi selesai. Jika tidak, ulangi langkah zero calibration.
  5. Siap Digunakan: Alat siap digunakan untuk pengukuran di lapangan. Lakukan verifikasi kalibrasi secara berkala, terutama setelah perubahan suhu lingkungan yang signifikan.

Kesimpulan

Memilih alat ukur ketebalan ultrasonik portabel yang tepat untuk industri bulk material handling bukanlah keputusan yang bisa dianggap remeh. Ini adalah investasi strategis yang secara langsung mempengaruhi keandalan operasional pabrik, keselamatan pekerja, dan profitabilitas bisnis.

Kesimpulan utamanya adalah: prioritaskan alat yang menawarkan fitur-fitur kunci untuk inspeksi lapangan modern, yaitu mode B-Scan untuk visualisasi korosi, mode Echo-Echo untuk inspeksi tanpa pengelupasan coating, portabilitas tinggi (berat <0,5 kg), dan ketahanan lingkungan yang memadai (IP rating sesuai kondisi lapangan). Lakukan analisis Total Biaya Kepemilikan (TCO) yang komprehensif, termasuk biaya probe tambahan, kalibrasi tahunan, dan ketersediaan dukungan purna jual di Indonesia. Alat seperti NOVOTEST UT-1M menawarkan keseimbangan ideal antara fitur canggih, portabilitas, dan nilai investasi yang kompetitif.

Ingatlah bahwa tujuan akhir dari semua ini adalah membangun program inspeksi yang proaktif dan berbasis data, yang mampu mendeteksi keausan dan korosi sejak dini, memprediksi sisa umur pakai aset, dan pada akhirnya mencegah shutdown yang mahal. Jangan biarkan keausan pipa mengganggu operasi Anda.

Jika Anda membutuhkan solusi yang andal untuk kebutuhan inspeksi ketebalan di perusahaan Anda, CV. Java Multi Mandiri adalah mitra yang tepat. Sebagai supplier dan distributor alat ukur dan pengujian, kami berfokus pada melayani kebutuhan bisnis dan aplikasi industri. Kami dapat membantu Anda mengoptimalkan operasional dan memenuhi kebutuhan peralatan komersial Anda terkait topik ini. Tim kami siap mendiskusikan kebutuhan spesifik perusahaan Anda dan memberikan solusi yang paling sesuai. Untuk informasi lebih lanjut dan konsultasi solusi bisnis, jangan ragu untuk menghubungi kami.

Rekomendasi Ultrasonic Thickness Gauge / Meter


Produk dan merek yang disebutkan (termasuk NOVOTEST UT-1M) adalah contoh ilustratif; artikel ini bersifat edukatif dan bukan merupakan dukungan resmi atau afiliasi komersial.

Referensi dan Sumber Terpercaya

  1. ASTM International. (2021). ASTM E797/E797M-21 Standard Practice for Measuring Thickness by Manual Ultrasonic Pulse-Echo Contact Method. West Conshohocken, PA. Retrieved from https://standards.iteh.ai/…
  2. Nelligan, T. (n.d.). An Introduction to Ultrasonic Thickness Gauging. Evident Scientific (formerly Olympus IMS). Retrieved from https://ims.evidentscientific.com/…
  3. Mohan, B.C., & Jeyasekhar, M.C. (2019). Oil and Gas Assets Condition Monitoring By High Sensitive PAUT Hydroform Corrosion Monitoring Technique for Integrity Assessment. Paper presented at SINCE 2019, published on NDT.net. Retrieved from https://www.ndt.net/…
  4. Wikipedia contributors. (n.d.). Bulk material handling. Wikipedia, The Free Encyclopedia. Retrieved from https://en.wikipedia.org/wiki/Bulk_material_handling
  5. ThomasNet. (n.d.). Abrasion Resistant Pipes Whitepaper. Retrieved from https://cdn.thomasnet.com/…
  6. NOVOTEST Lab. (n.d.). NOVOTEST UT-1M Ultrasonic Thickness Gauge Datasheet. Retrieved from https://ndt.com.au/…
  7. Multi Meter Digital. (n.d.). Alat Ukur Ketebalan Ultrasonik. Retrieved from https://multimeter-digital.com/

Konsultasi Produk NOVOTEST Indonesia