Jenis Retak Pada Beton

Jenis Retak Pada Beton

Jenis Retak Pada BetonKeretakan pada beton memiliki jenis yang dapat dibedakan menjadi retak struktural dan non – struktural. Retak struktural pada bangunan dapat membahayakan bangunan, hal itu disebabkan oleh kesalahan dalam desain atau juga beban yang melebihi kapasitas.

Jenis Retak Pada Beton

Salah satu contoh retak struktural adalah retak yang ekstensif atau menyebar dari balok beton bertulang. Sedangkan salah satu contoh kerusakan non-struktural yaitu  terjadi karena adanya tegangan yang diinduksi secara internal dalam material bangunan atau konstruksi.

Retakan non-struktural pada umumnya juga tidak langsung mengakibatkan melemahnya struktur suatu bangunan. Keretakan sendiri bisa diukur melalui pola umumnya, panjang dan lebar. Akan tetapi, karena bentuknya yang tidak teratur atau irregular shape menyebabkan lebar retak ini sulit diukur.

Jenis Retak Pada Beton

Retakan selanjutnya adalah retak mikro. Retak mikro sendiri merupakan retak yang terjadi pada fase pengerasan beton dan memiliki ukuran yang sangatlah kecil sehingga sulit dideteksi. Agar dapat mendeteksi dan mengetahui keretakan hingga ukuran mikro  yaitu menggunakan alat Ultrasonic Flaw Detector. Berikut beberapa jenis retak pada beton secara umum :

1. Retak Plastis Akibat Penyusutan

Umumnya, retakan jenis ini terjadi 1 hingga 8 jam setelah proses penempatan beton. Hal yang menyebabkan permukaan beton bisa menyusut adalah ketika beton dengan sangat cepat mengalami kehilangan air karena faktor udara, suhu beton, kelembaban dan kecepatan angin di permukaan beton yang menyebabkan air menguap dari permukaan beton. 

Sedangkan beton yang tidak mengalami bleeding akan menyusut karena tahanan yang diberikan oleh beton di bawah lapisan permukaan yang mengering. Setelah itu tegangan tarik berkembang di beton yang lemah dan mengakibatkan terjadinya retak – retak dangkal dengan berbagai kedalaman yang bisa membentuk retak secara acak dengan bentuk poligon.

2. Retak Plastis Akibat Penurunan

Selama periode setelah pengecoran, penggetaran hingga beton selesai dicor, kemudian beton yang memiliki kecenderungan untuk terus mampat ini mungkin beton plastis ditahan oleh tulangan.

Sedangkan untuk beton keras akan di bekisting atau ditempatkan lebih dahulu, perletakan setempat ini bisa menyebabkan retak di atas tulangan dan rongga di bawah tulangan.

Retak plastis akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya nilai slump, meningkatnya diameter tulangan, berkurangnya selimut beton dan penurunan ketika berhubungan dengan tulangan

3. Drying Shrinkage Cracking

Proses pengeringan yang akan menghilangkan kadar air dari campuran semen dan menyebabkan susut hingga 1%. Akan tetapi,  partikel agregat memberikan tahanan internal yang mereduksi besarnya perubahan volume sekitar 0,06% sehingga menjadi nilai keuntungan tersendiri.

Karakteristik dari beton yaitu beton cenderung mengembang ketika dibasahi dan peningkatan volume dapat sebanding dengan besarnya penyusutan beton dan hal itu menyebabkan perubahan volume akibat perubahan kadar air ini.

Beton tidak akan retak apabila susut pada beton dapat terjadi tanpa batasan, hal itu dikarenakan kombinasi dari susut dan batasan yang diberikan oleh bagian lain bisa dari struktur, dari tanah dasar atau dari kelembaban interior beton itu sendiri. Hal ini pula yang menyebabkan berkembangnya tegangan – tegangan tarik dan beton akan retak ketika batasan tegangan tarik dari material sudah melewati batas maka beton.

4. Concrete Crazing

Crazing adalah pengembangan jaringan retak celah atau retak acak halus pada permukaan beton. Retak jenis ini biasanya tidak lebih dalam dari 3 mm dan lebih terlihat pada permukaan yang tergenang secara berlebihan. Jenis retak ini juga  disebabkan oleh penyusutan lapisan permukaan.

Umumnya, retak ini terjadi sehari setelah pengecoran atau pada saat beton berusia dini dan biasanya tidak mudah terlihat sampai permukaan telah dibasahi dan mulai kering atau mengeras. Retak jenis ini juga tidak berbahaya karena tidak mempengaruhi struktur bangunan, namun menjadi tidak enak dipandang.

5. Thermal Cracking

Struktur beton dapat mengalami perbedaan suhu disebabkan oleh kondisi cuaca yang dingin, panas dari suatu bagian struktur yang berubah dan oleh bagian dari struktur kehilangan panas hidrasi pada tingkat yang berbeda.

Retak yang ditimbulkan akibat perbedaan suhu ini yang menghasilkan perubahan volume yang berbeda – beda. Karena pembebasan panas selama hidrasi semen atau pendinginan yang lebih cepat antara eksterior ke interior juga menyebabkan perubahan suhu yang terjadi oleh salah satu pusat beton lebih panas dari bagian luar. Dari kedua kasus tersebut bisa menyebabkan tegangan tarik pada eksterior dan apabila kekuatan tarik terlampaui, maka akan menimbulkan retak jenis thermal cracking ini.

6. Cracking due to Chemical Reaction

Kerusakan akibat reaksi kimia bisa menyebabkan retak pada beton. Reaksi ini mungkin juga terjadi karena bahan yang dipakai untuk membuat beton atau material lain yang bertemu dengan beton setelah beton kering. 

Akibat reaksi ekspansif yang berkembang secara perlahan antara agregat yang mengandung silika aktif dan basa, beton dapat pecah seiring dengan waktu. Silika aktif dan basa ini dapat berasal dari hidrasi semen, admixture atau sumber eksternal seperti alkaline, air tanah, air curing yang dipakai atau ditaruh pada permukaan beton yang sudah kering.